JAKARTA – Transformasi sektor pertanian di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan hasil nyata melalui peningkatan kesejahteraan petani dan lonjakan signifikan cadangan beras nasional.
Kebijakan strategis pemerintah dalam menjaga harga gabah dinilai menjadi fondasi utama yang mendorong daya beli petani sekaligus memastikan produksi pangan tetap stabil.
Di saat banyak negara menghadapi ancaman krisis pangan, Indonesia justru mencatat kondisi berbanding terbalik dengan stok beras yang melimpah dan terus meningkat hingga awal 2026.
Pemerintah sejak awal 2025 menetapkan Harga Pembelian Pemerintah untuk Gabah Kering Panen sebesar Rp6.500 per kilogram sebagai langkah perlindungan terhadap petani dari fluktuasi harga pasar.
Kebijakan tersebut terbukti efektif karena sepanjang tahun 2025 tidak ditemukan harga gabah yang jatuh di bawah batas HPP yang telah ditentukan.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan harga gabah terendah masih berada di angka Rp6.712 per kilogram pada April 2025, sementara rata-rata tahunan mencapai Rp7.081 per kilogram.
Stabilitas harga ini secara langsung mendorong peningkatan pendapatan petani di berbagai daerah sentra produksi.
Menteri Pertanian menegaskan bahwa kebijakan harga merupakan kunci utama dalam menjaga keseimbangan antara kesejahteraan petani dan produktivitas sektor pertanian.
“HPP dijaga. Harga Pembelian Pemerintah untuk gabah itu Rp 6.500 kg. Kesejahteraan petani, peningkatannya tertinggi selama Republik Indonesia merdeka,” ujarnya, ditulis Rabu (8/4).
Peningkatan kesejahteraan petani juga tercermin dari kenaikan Nilai Tukar Petani yang terus bergerak positif sepanjang 2025.
Pada Desember 2025, NTP tercatat mencapai 125,35 atau meningkat 1,05 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Secara kumulatif, NTP nasional sepanjang 2025 berada di angka 123,26 atau naik 3,04 persen dibandingkan tahun 2024.
Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan indeks harga yang diterima petani yang lebih tinggi dibandingkan pengeluaran mereka.
Subsektor hortikultura menjadi penyumbang utama lonjakan tersebut, diikuti oleh komoditas strategis seperti gabah, cabai rawit, kakao, dan ayam ras pedaging.
Memasuki tahun 2026, tren positif tersebut masih berlanjut dengan NTP Februari mencapai 125,45 sebelum sedikit terkoreksi menjadi 125,35 pada Maret.
Meski mengalami koreksi tipis, angka tersebut tetap mencerminkan daya beli petani yang kuat dan stabil.
Di sisi lain, ketersediaan beras nasional justru berada dalam kondisi yang sangat aman bahkan melimpah.
Pada akhir 2025, pemerintah mencatat stok beras mencapai 3,8 juta ton sebagai cadangan nasional.
Momentum tersebut diperkuat dengan deklarasi swasembada pangan yang disampaikan pada akhir tahun lalu.
Memasuki April 2026, stok beras kembali mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan menembus angka 4,6 juta ton.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah berhasil menjaga keseimbangan antara peningkatan produksi dan ketersediaan pangan.
Petani memperoleh kepastian harga serta peningkatan pendapatan, sementara masyarakat tetap menikmati akses beras yang stabil dan terjangkau.***