JAKARTA – FIFA resmi menyiapkan perubahan signifikan terhadap regulasi pertandingan menjelang Piala Dunia 2026. Salah satu aturan yang menjadi sorotan adalah perluasan kewenangan wasit dan Video Assistant Referee (VAR) untuk membatalkan gol yang diawali pelanggaran sebelum bola dimainkan dalam situasi bola mati.
Langkah tersebut diambil menyusul meningkatnya kontroversi terkait praktik blok pemain, tarik-menarik, hingga duel fisik yang kerap terjadi saat tendangan sudut maupun tendangan bebas. FIFA menilai sejumlah gol yang lahir dari situasi tersebut memberikan keuntungan tidak adil bagi tim penyerang dan bertentangan dengan semangat fair play.
Kepala Wasit FIFA, Pierluigi Collina, menegaskan bahwa organisasi sepak bola dunia itu tidak lagi mentoleransi gol yang tercipta melalui pelanggaran yang dilakukan sesaat sebelum bola dimainkan.
“Kami yakin gol seperti itu tidak bisa dibenarkan, ini benar-benar tidak adil,” kata Collina sebagaimana dikutip dari laporan The Telegraph, Senin (1/6).
FIFA Soroti Praktik yang Marak di Liga Inggris
Perubahan aturan ini tidak lepas dari banyaknya insiden kontroversial yang muncul dalam beberapa musim terakhir, terutama di Premier League. Skema blok pemain yang dilakukan saat sepak pojok atau tendangan bebas dinilai semakin sering digunakan untuk membuka ruang bagi rekan setim mencetak gol.
FIFA bahkan menyoroti sebuah pertandingan persahabatan antara Timnas Inggris dan Uruguay. Dalam momen tersebut, gelandang Inggris Adam Wharton dianggap melakukan gangguan berlebihan terhadap bek Uruguay, Jose Maria Gimenez, ketika situasi sepak pojok berlangsung.
Menurut penilaian Collina, tindakan tersebut memberikan keuntungan yang tidak semestinya kepada tim penyerang. Jika aturan baru sudah diterapkan saat itu, gol yang dicetak Ben White berpotensi dibatalkan oleh wasit setelah melalui proses peninjauan VAR.
“Jika pelanggaran terjadi tepat sebelum bola dimainkan, kami yakin tidak ada yang bisa mengajukan keberatan,” ujar Collina.
VAR Akan Punya Peran Lebih Besar
Dalam skema regulasi terbaru, VAR tidak hanya fokus pada insiden setelah bola dimainkan, tetapi juga dapat meninjau pelanggaran yang terjadi beberapa detik sebelumnya apabila berpengaruh langsung terhadap hasil sebuah serangan.
FIFA mengungkapkan bahwa Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) telah memberikan dukungan terhadap perluasan kewenangan tersebut. Bahkan, pertemuan khusus IFAB disebut mendorong percepatan implementasi aturan menyusul banyaknya perdebatan mengenai kontak fisik dalam situasi bola mati.
Melalui mekanisme baru ini, VAR dapat merekomendasikan wasit untuk melakukan peninjauan ulang di monitor pinggir lapangan apabila ditemukan pelanggaran jelas dari pihak penyerang sebelum bola dimainkan.
Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pelanggaran yang berdampak langsung terhadap terciptanya gol, pemberian penalti, atau keputusan disiplin lainnya, maka wasit berhak membatalkan hasil dari situasi tersebut.
Gol yang sudah tercipta pun dapat dianulir dan permainan dilanjutkan kembali sesuai keputusan yang berlaku dalam pertandingan.
Kasus Arsenal-West Ham Jadi Perhatian
Salah satu contoh yang menjadi perhatian regulator sepak bola dunia terjadi dalam pertandingan Premier League antara West Ham United dan Arsenal.
Pada laga tersebut, gol yang sempat menjadi penyeimbang bagi West Ham akhirnya dibatalkan karena terdapat pelanggaran terhadap penjaga gawang Arsenal, David Raya. Insiden itu menjadi salah satu bukti bahwa kontak fisik di area penalti saat bola mati masih menjadi persoalan yang membutuhkan pengawasan lebih ketat.
FIFA menilai kasus-kasus serupa berpotensi terus meningkat jika tidak diantisipasi melalui regulasi yang lebih tegas.
Karena itu, para pengadil lapangan nantinya akan mendapat instruksi khusus agar lebih cermat mengawasi pola permainan yang melibatkan blok pemain, dorongan, maupun duel fisik berlebihan saat tendangan sudut dan tendangan bebas berlangsung.
Cedera Pemain Juga Masuk Radar FIFA
Selain mengatur ulang pengawasan terhadap situasi bola mati, FIFA juga tengah berupaya mengurangi praktik memanfaatkan cedera pemain untuk menghentikan ritme pertandingan.
Dalam beberapa tahun terakhir, taktik tersebut kerap digunakan sejumlah tim untuk memecah momentum lawan sekaligus memberikan waktu tambahan bagi pelatih menyampaikan instruksi kepada pemain di lapangan.
Collina mengungkapkan bahwa isu tersebut telah menjadi salah satu topik pembahasan dalam lokakarya yang melibatkan pelatih dari 48 negara peserta Piala Dunia 2026.
Meski FIFA belum menyiapkan hukuman berupa kartu bagi pemain yang terlibat dalam praktik tersebut, para wasit akan diminta mengambil langkah preventif agar pertandingan tetap berjalan adil dan kompetitif.
FIFA berharap paket perubahan aturan ini dapat meningkatkan kualitas pertandingan sekaligus mengurangi kontroversi yang selama ini sering muncul akibat interpretasi pelanggaran dalam situasi bola mati.
Dengan semakin luasnya kewenangan VAR dan pengawasan yang lebih ketat dari wasit, Piala Dunia 2026 diproyeksikan menjadi turnamen dengan standar fair play yang lebih tinggi dibanding edisi-edisi sebelumnya.