MALUKU UTARA – Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali mengalami erupsi pada Selasa pagi, 2 Juni 2026. Aktivitas vulkanik tersebut menghasilkan kolom abu yang membumbung hingga sekitar 1.300 meter di atas puncak gunung dan terlihat mengarah ke sisi timur kawasan sekitar. Peristiwa ini kembali mengingatkan masyarakat bahwa Gunung Dukono masih menjadi salah satu gunung api paling aktif di Indonesia dengan tingkat aktivitas yang tinggi sepanjang tahun.
Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi terjadi sekitar pukul 07.55 WIT. Tinggi kolom abu yang teramati mencapai sekitar 1.300 meter di atas puncak atau sekitar 2.387 meter di atas permukaan laut. Abu vulkanik tampak berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas cukup tebal dan bergerak mengikuti arah angin ke wilayah timur.
Petugas pemantauan gunung api mencatat bahwa letusan tersebut terekam melalui seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 34 milimeter dan durasi lebih dari 43 detik. Data ini menunjukkan bahwa aktivitas magma di dalam tubuh gunung masih berlangsung dan berpotensi menghasilkan erupsi susulan dalam waktu tertentu.
Hingga saat ini, status Gunung Dukono masih berada pada Level II atau Waspada. Meski belum mengalami peningkatan status, masyarakat di sekitar kawasan gunung tetap diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan sebaran abu vulkanik yang dapat berubah sesuai arah angin. PVMBG juga mengingatkan agar warga, pendaki, maupun wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius 4 kilometer dari Kawah Malupang Warirang yang menjadi pusat aktivitas erupsi.
Selain menjauhi area berbahaya, masyarakat juga dianjurkan selalu menyiapkan masker atau penutup hidung dan mulut. Abu vulkanik yang beterbangan di udara dapat mengganggu sistem pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Sebaran abu dari Gunung Dukono dikenal cukup luas karena sangat dipengaruhi kondisi cuaca dan kecepatan angin di wilayah Halmahera Utara.
Aktivitas Gunung Dukono sendiri bukanlah fenomena baru. Gunung api yang berada di Pulau Halmahera ini dikenal memiliki karakter erupsi yang relatif sering dibandingkan banyak gunung api lainnya di Indonesia. Dalam beberapa bulan terakhir, Dukono beberapa kali mengalami letusan dengan tinggi kolom abu yang bervariasi, mulai dari ratusan meter hingga beberapa kilometer di atas puncak gunung.
Data yang dirilis PVMBG sebelumnya menunjukkan bahwa sejak peningkatan aktivitas pada akhir Maret 2026, frekuensi erupsi Gunung Dukono mengalami kenaikan signifikan. Aktivitas magmatik eksplosif yang terjadi secara berulang menjadi salah satu alasan mengapa pemantauan terhadap gunung ini dilakukan secara intensif selama 24 jam.
Dalam laporan pemantauan beberapa hari terakhir, Gunung Dukono juga tercatat mengalami puluhan gempa letusan dan gempa frekuensi rendah yang menjadi indikator masih aktifnya pergerakan material vulkanik di bawah permukaan. Kondisi tersebut membuat potensi erupsi berkala masih dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa didahului tanda yang mudah dikenali masyarakat umum.
Meski demikian, hingga saat ini aktivitas penerbangan di wilayah Maluku Utara belum dilaporkan mengalami gangguan akibat erupsi tersebut. Otoritas terkait terus memantau perkembangan arah abu vulkanik untuk mengantisipasi dampak terhadap jalur transportasi udara maupun aktivitas masyarakat di sekitar kawasan terdampak.
Pemerintah daerah bersama petugas pengamatan gunung api juga terus melakukan koordinasi guna memastikan informasi terbaru dapat diterima masyarakat secara cepat dan akurat. Warga diimbau untuk tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi dan selalu mengikuti perkembangan resmi dari PVMBG maupun Badan Geologi.
Gunung Dukono merupakan salah satu gunung api aktif yang memiliki sejarah erupsi panjang di Indonesia. Karakter letusannya yang relatif sering membuat kawasan di sekitarnya harus selalu berada dalam kondisi siaga, terutama ketika terjadi peningkatan aktivitas vulkanik seperti yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Dengan kepatuhan terhadap rekomendasi keselamatan dan pemantauan yang berkelanjutan, risiko dampak erupsi terhadap masyarakat dapat diminimalkan.