Beralih dari gula pasir ke pemanis pengganti seperti stevia sering kali memunculkan pertanyaan praktis: berapa bungkus atau saset yang aman dikonsumsi setiap hari? Sayangnya, jawabannya tidak sesederhana menghitung jumlah saset, sebab setiap produk komersial di pasaran memiliki komposisi dan kadar kemurnian yang berbeda-beda.
1. Menghitung Batas Aman Berdasarkan Berat Badan (ADI)
Komite Ahli Gabungan FAO/WHO untuk Aditif Pangan (JECFA) menetapkan Batas Asupan Harian yang Dapat Diterima (Acceptable Daily Intake / ADI) untuk pemanis steviol glikosida sebesar 0–4 mg per kilogram berat badan per hari (sebagai ekuivalen steviol). Aturan ini berlaku umum bagi masyarakat luas, termasuk bagi penyandang diabetes.
Untuk mengetahuinya, Anda dapat mengalikan berat badan (dalam kilogram) dengan angka 4 mg untuk melihat batas atas ekuivalen steviol harian:
-
Berat Badan 50 kg: Batas atas hingga 200 mg
-
Berat Badan 60 kg: Batas atas hingga 240 mg
-
Berat Badan 70 kg: Batas atas hingga 280 mg
-
Berat Badan 80 kg: Batas atas hingga 320 mg
Catatan penting: Angka ADI ini merupakan estimasi jumlah yang aman dikonsumsi sepanjang hidup setiap hari tanpa risiko kesehatan, bukanlah target atau anjuran konsumsi harian yang harus dicapai.
2. Perbedaan Batas ADI Harian dan Batas Regulasi BPOM
Banyak orang kerap keliru menyamakan standar ADI dengan batasan yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
-
Standar ADI: Menghitung total konsumsi harian aman yang masuk ke dalam tubuh berdasarkan berat badan individu.
-
Standar BPOM: Mengatur batas maksimal kadar penambahan stevia pada produk makanan atau minuman tertentu (seperti minuman ringan, yoghurt, atau hidangan penutup).
Oleh karena itu, angka ADI tidak bisa serta-merta dikonversi langsung menjadi hitungan gram bubuk atau jumlah saset. Kombinasi bahan dan jenis ekstrak dalam setiap merek produk sangat bervariasi. Jika ingin memastikan takaran izin edar suatu produk olahan, Anda dapat mengecek kategorinya melalui pangkalan data resmi CekBTP BPOM.
3. Apakah Stevia Benar-Benar Aman untuk Gula Darah?
Sebagai pengganti gula, stevia populer karena tidak memicu lonjakan kadar gula darah secara drastis seperti gula pasir.
Sebuah studi melibatkan 69 orang dewasa (termasuk penderita diabetes tipe 2) menunjukkan bahwa konsumsi minuman ber-stevia tidak mengakibatkan kenaikan kadar glukosa darah yang berarti dalam beberapa jam pascakonsumsi. Walau demikian, penelitian ini sebatas memantau efek jangka pendek.
Riset terpisah dari gabungan 12 uji klinis pada 871 orang dewasa mengindikasikan bahwa stevia berpotensi membantu menurunkan kadar gula darah puasa dalam skala kecil. Namun, studi tersebut tidak menemukan perbaikan signifikan pada kadar HbA1c (rata-rata gula darah jangka panjang).
Kesimpulannya, stevia efektif untuk memangkas asupan gula harian, namun belum cukup bukti ilmiah untuk diposisikan sebagai obat diabetes atau pengganti resep medis dokter.
4. Waspadai Bahan Campuran dalam Produk “Stevia”
Saat berbelanja, Anda perlu lebih teliti membaca label kemasan. Sebagian produk yang memasang label stevia kerap mencampurnya dengan bahan pengisi atau pemanis lain.
Selain itu, klaim “bebas gula” (sugar-free) tidak otomatis berarti produk tersebut bebas karbohidrat atau kalori. Selalu biasakan memeriksa label informasi nilai gizi secara menyeluruh.
Sebagai rangkuman, acuan ADI 0–4 mg ekuivalen steviol/kg berat badan dapat dijadikan batasan aman, bukan target konsumsi. Karena label kemasan jarang mencantumkan angka ekuivalen secara langsung, takaran saset ideal tidak bisa dihitung sembarangan tanpa mencermati komposisi produk. Stevia adalah alat bantu yang baik untuk mereduksi gula tambahan, tetapi tidak menggantikan pola makan seimbang, pemantauan rutin, maupun pengobatan medis yang telah diresepkan.