Pernahkah Anda mendapati eskalator di stasiun atau pusat perbelanjaan mendadak mati, lalu mengalihfungsikannya sebagai tangga biasa? Tindakan yang tampak praktis ini ternyata menyimpan risiko keselamatan yang kerap diabaikan.
Berdasarkan panduan perusahaan penyedia solusi elevator global, KONE, eskalator yang sedang tidak beroperasi tidak disarankan untuk digunakan sebagai jalur naik atau turun.
Alasan utamanya terletak pada desain fisik. Dimensi kedalaman dan tinggi anak tangga eskalator dirancang sangat berbeda dari tangga konvensional, sehingga tidak ergonomis dan berisiko membuat kaki salah melangkah. Selain itu, permukaan eskalator yang mati seringkali tidak rata atau menjadi licin, melipatgandakan potensi pengguna tersandung, terpeleset, dan jatuh.
Mitos Kecepatan: Mengapa Berjalan di Eskalator Justru Bikin Antrean Mengular
Selain persoalan eskalator mati, kebiasaan berjalan (walking) di atas eskalator yang menyala juga sering dianggap lebih efisien untuk mempercepat perjalanan. Namun, studi ilmiah mematahkan anggapan tersebut.
Sebuah riset dari konsultan Capgemini Consulting di Stasiun Green Park, London, menganalisis perbandingan waktu antara penumpang yang berjalan dan berdiri. Secara personal, orang yang berjalan memang tiba di ujung eskalator lebih cepat (46 detik berbanding 138 detik jika antrean panjang).
Namun, ketika dihitung secara komprehensif dari titik awal mengantre hingga keluar stasiun, kebijakan berdiri bersama di kedua sisi eskalator jauh lebih efisien.
-
Saat seluruh penumpang berdiri di kedua sisi, rata-rata waktu perjalanan total turun menjadi hanya 59 detik.
-
Panjang antrean di muka eskalator juga menyusut drastis dari 73 orang menjadi tinggal 24 orang.
Faktor utamanya adalah efisiensi ruang. Penumpang yang berjalan umumnya membutuhkan ruang tiga anak tangga untuk setiap orang, sementara mereka yang berdiri cukup memakai dua anak tangga. Membiarkan satu sisi kosong demi pejalan kaki justru membuang kapasitas angkut eskalator secara sia-sia.
Pabrikan elevator ternama, Otis, turut mengamini hal ini. Mereka menyarankan agar penumpang cukup melangkah ke eskalator, berdiri tegap berpegangan pada handrail, dan tidak berjalan demi menekan risiko kecelakaan—sejalan dengan seruan General Manager Metro Washington, Paul Wiedefeld, yang mendorong budaya berdiri berdampingan.
Benturan Psikologis: Mengapa Sulit Mengubah Kebiasaan Publik?
Meski data statistik terbukti efisien, mengubah perilaku komuter perkotaan bukanlah perkara mudah. Ada faktor psikologis yang mendalam di balik kebiasaan orang memilih berjalan di eskalator.
Profesor psikologi Worcester Polytechnic Institute, Jeanine L. Skorinko, menjelaskan bahwa masyarakat urban memiliki batas zona nyaman yang ketat terhadap orang asing. Berdiri terlalu dekat berdampingan sering dihindari, sehingga mereka memilih berjalan untuk mendahului.
Pandangan senada diungkapkan oleh psikolog Curtis W. Reisinger dari Zucker Hillside Hospital. Menurutnya, sifat dasar manusia di kota besar didorong oleh rasa urgensi yang tinggi. Altruisme atau kerelaan berkorban demi kenyamanan bersama sulit mengalahkan insting ingin cepat sampai.
Mantan Komisaris Transportasi New York City, Sam Schwartz, menyimpulkan bahwa sifat kompetitif individu kerap kali lebih mendominasi pertimbangan logis.
“Di mana pun terdapat masalah kapasitas—baik di jalan raya maupun di eskalator—kepentingan pribadi selalu mendominasi perilaku kita,” pungkas Schwartz.