JAKARTA – Gempa tektonik berkekuatan magnitudo 5,3 mengguncang wilayah Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Rabu (29/7/2026) pukul 20.23 WIB dengan pusat gempa berada di laut sehingga memicu perhatian masyarakat setempat.
BMKG memperbarui hasil analisis yang menunjukkan gempa memiliki magnitudo M5,3 dengan kedalaman 25 kilometer serta berpusat di koordinat 5,24 derajat Lintang Utara dan 125,20 derajat Bujur Timur.
Lokasi episenter gempa berada sekitar 183 kilometer di barat laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, dengan sumber gempa berasal dari aktivitas tektonik bawah laut.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Dr. Wijayanto, S.T., M.Sc. menjelaskan hasil pemodelan menunjukkan ancaman tsunami tidak muncul akibat peristiwa tersebut.
“Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI,” tegas Wijayanto.
BMKG mengungkapkan gempa termasuk kategori gempa dangkal yang dipicu aktivitas subduksi di zona Cotabato Trench berdasarkan posisi episenter dan kedalaman hiposenternya.
Analisis mekanisme sumber juga memperlihatkan gempa dipicu pergerakan patahan naik atau thrust fault yang umum terjadi di kawasan pertemuan lempeng aktif.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” tambahnya.
Peta guncangan BMKG mencatat intensitas IV MMI terjadi di Kepulauan Marore, Kepulauan Sangihe, dengan getaran dirasakan banyak orang dan menyebabkan benda ringan serta pintu maupun jendela bergetar.
Getaran berkekuatan III MMI turut dirasakan warga di Kendahe, Kepulauan Sangihe, serta Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, dengan sensasi seperti truk besar melintas.
Pemantauan hingga pukul 20.45 WIB menunjukkan belum terdeteksi gempa susulan sehingga kondisi kegempaan masih relatif stabil.
“BMKG akan terus memonitor aktivitas gempa bumi susulan serta menyampaikan pemutakhiran informasi kepada stakeholder dan masyarakat,” ungkapnya.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, serta menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan akibat guncangan.***



