JAKARTA – Olahraga kini tidak lagi sekadar aktivitas untuk menjaga kebugaran. Bagi generasi Z (GEN Z) olahraga mulai menjadi bagian dari gaya hidup, mulai dari pergi ke gym, lari bersama komunitas, mengikuti kelas pilates, hingga bermain padel.
Perubahan tersebut terlihat dari sejumlah survei yang menunjukkan tingginya perhatian anak muda terhadap aktivitas fisik. Laporan Gen Z Fitness Pulse Report 2025 dari The Gym Group, misalnya, menemukan 73 persen Gen Z yang disurvei berolahraga setidaknya dua kali dalam seminggu. Angka tersebut meningkat 11 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya. Survei ini melibatkan lebih dari 2.000 responden berusia 16-28 tahun.
Di Indonesia, survei Populix pada 2025 juga menunjukkan bahwa olahraga sudah menjadi aktivitas yang cukup dekat dengan keseharian Gen Z. Dari 375 responden Gen Z, 47 persen memilih berolahraga di rumah, sementara 20 persen memilih lapangan di lingkungan tempat tinggal dan 11 persen memilih gym atau fitness center.
Bukan Cuma Soal Badan
Salah satu alasan Gen Z tertarik berolahraga adalah manfaat yang dirasakan tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara mental.
Dalam survei The Gym Group, 87 persen responden Gen Z mengatakan olahraga membantu meningkatkan kesejahteraan mental, sedangkan 82 persen merasa olahraga yang dilakukan selama aktivitas kerja dapat meningkatkan energi dan produktivitas.
Hal ini membuat olahraga tidak lagi dipandang sebagai kegiatan yang harus dilakukan ketika ingin menurunkan berat badan saja. Bagi sebagian anak muda, olahraga juga menjadi cara untuk menjaga mood, mengurangi stres, sekaligus mendapatkan waktu untuk diri sendiri.
Gym, Running, Pilates hingga Padel
Pilihan olahraga Gen Z pun semakin beragam. Gym dan latihan beban menjadi salah satu pilihan untuk membentuk kekuatan dan kebugaran tubuh. Sementara itu, lari semakin mudah dilakukan karena tidak membutuhkan banyak peralatan dan dapat dilakukan secara individu maupun bersama komunitas.
Survei terhadap mahasiswa Gen Z yang diterbitkan dalam Jurnal Performa Olahraga pada 2025 juga menemukan bahwa aktivitas yang fleksibel seperti running dan gym banyak dipilih. Penelitian tersebut melibatkan 150 mahasiswa aktif dan menemukan bahwa media sosial serta kemudahan akses terhadap fasilitas olahraga turut memengaruhi keterlibatan mereka dalam aktivitas fisik.
Di sisi lain, pilates dan padel ikut menarik perhatian karena menawarkan pengalaman olahraga yang berbeda. Pilates memberikan pilihan latihan yang berfokus pada kontrol tubuh, kekuatan inti dan fleksibilitas, sedangkan padel menggabungkan aktivitas fisik dengan unsur permainan dan interaksi sosial.
Bagi Gen Z, faktor sosial juga menjadi bagian penting dari pengalaman berolahraga. Gym, kelas olahraga, maupun komunitas lari dapat menjadi tempat untuk bertemu orang baru dan menghabiskan waktu bersama teman.
Survei The Gym Group menunjukkan 37 persen responden melihat olahraga sebagai salah satu cara untuk bersosialisasi, sementara 42 persen mengaku mendapatkan teman melalui aktivitas kebugaran.
Media Sosial Ikut Mendorong Tren
Media sosial juga tidak bisa dilepaskan dari perkembangan tren olahraga di kalangan anak muda. Konten mengenai workout, transformasi tubuh, tips lari, hingga rutinitas pilates membuat aktivitas olahraga semakin mudah ditemukan di TikTok, Instagram, dan platform lainnya.
Namun, bukan berarti seluruh Gen Z sudah aktif berolahraga. Survei Jakpat pada Desember 2025 terhadap 1.158 Gen Z Indonesia berusia 17-28 tahun menemukan bahwa 32 persen responden memilih olahraga sebagai salah satu kegiatan untuk mengisi waktu luang. Angka tersebut masih berada di bawah aktivitas seperti menggunakan media sosial, menonton film atau serial, mendengarkan musik atau podcast, serta bermain game.
Artinya, tren olahraga memang semakin terlihat di kalangan Gen Z, tetapi masih ada tantangan untuk membuat kebiasaan tersebut menjadi lebih konsisten.
Pada akhirnya, perubahan terbesar bukan hanya soal jenis olahraga yang dipilih. Gym, running, pilates, padel, maupun olahraga lainnya menunjukkan bahwa generasi muda mulai melihat aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian bukan sekadar kewajiban untuk menjaga kesehatan. (ACH)


