Gunung Merapi mencatat 25 kali gempa guguran pada Senin (17/11/2025) pagi, namun aktivitas vulkanik secara keseluruhan tetap stabil dalam status Siaga Level III yang telah berlaku sejak November 2020.
Berdasarkan laporan resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang dikutip dari laman MAGMA Indonesia, gunung berapi aktif yang berada di perbatasan Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten ini mengalami 25 kali gempa guguran selama periode pengamatan pukul 06.00–12.00 WIB. Gempa guguran tersebut memiliki amplitudo antara 1 hingga 26 milimeter dengan durasi 56 hingga 197 detik.
Selain gempa guguran, Merapi juga mencatat 9 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 14–27 milimeter yang mengindikasikan pergerakan fluida atau magma mendekati permukaan. PVMBG juga melaporkan 1 kali gempa tektonik jauh selama periode pengamatan.
Pola Aktivitas dalam Minggu Terakhir
Aktivitas Gunung Merapi dalam beberapa hari terakhir menunjukkan fluktuasi yang masih dalam batas normal untuk status Siaga. Laporan dari Suara Merdeka mencatat adanya penurunan jumlah gempa sebelumnya, dari 14 kali turun menjadi 10 kali gempa guguran, serta penurunan gempa hybrid dari 18 kali menjadi 16 kali.
Pada 16 November, fenomena lava pijar teramati jelas meluncur dari puncak Merapi sekitar pukul 22.13 WIB ke arah Sungai Krasak. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat bahwa suplai magma masih berlangsung di dalam tubuh gunung, namun aktivitas ini masih sejalan dengan pola erupsi efusif yang telah berlangsung sejak 2020.
Rekomendasi dan Zona Bahaya
Gunung Merapi yang memiliki ketinggian puncak 2.968 meter di atas permukaan laut ini telah berstatus Siaga Level III sejak 5 November 2020. Kepala BPPTKG Agus Budi Santosa menegaskan bahwa aktivitas vulkanik saat ini menunjukkan dinamika tinggi, sehingga masyarakat diminta mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan.
Potensi bahaya saat ini meliputi guguran lava dan awan panas pada sektor selatan–barat daya yang mencakup Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer. Pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Lontaran material vulkanik dari letusan eksplosif berpotensi menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.