JAKARTA – Pergerakan harga komoditas global menunjukkan tren beragam pada perdagangan Selasa (23/6). Harga minyak mentah dunia terkoreksi setelah pasar mulai melihat adanya normalisasi lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, sementara logam industri seperti nikel dan timah mengalami tekanan signifikan. Di sisi lain, harga batu bara cenderung stabil dan minyak kelapa sawit mentah (CPO) melemah tipis.
Perkembangan tersebut menjadi sorotan pelaku pasar karena mencerminkan perubahan sentimen global pasca meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang sempat memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dunia.
Minyak Dunia Turun Seiring Kembalinya Aktivitas Kapal Tanker
Harga minyak mentah dunia bergerak turun setelah muncul indikasi bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali lebih terbuka bagi kapal tanker. Kondisi ini memberi sinyal bahwa risiko gangguan distribusi minyak global mulai mereda.
Mengutip Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Agustus ditutup turun 0,9 persen menjadi USD 73,21 per barel. Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak Agustus melemah 1,1 persen ke level USD 77,08 per barel.
Penurunan harga terjadi setelah pasar merespons meningkatnya aktivitas kapal tanker yang kembali melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Sebelumnya, kawasan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.
Kembalinya arus pelayaran dinilai sebagai sinyal positif bagi pasar energi karena membuka peluang peningkatan pasokan minyak yang sempat terhambat akibat ketidakpastian geopolitik.
Batu Bara Bertahan di Tengah Tekanan Komoditas
Berbeda dengan minyak, harga batu bara relatif stabil dan tidak menunjukkan pergerakan signifikan pada perdagangan hari yang sama.
Berdasarkan data Barchart, harga batu bara ICE Newcastle kontrak Juli 2026 ditutup naik tipis 0,08 persen menjadi USD 131,60 per ton.
Kenaikan yang sangat terbatas tersebut mencerminkan sikap pasar yang masih menunggu perkembangan permintaan energi global, khususnya dari negara-negara konsumen utama di Asia. Stabilnya harga batu bara juga menunjukkan bahwa pasar masih mencari keseimbangan antara pasokan dan prospek konsumsi energi dalam beberapa bulan mendatang.
Harga CPO Melemah Tipis
Sementara itu, harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) bergerak turun tipis pada perdagangan Selasa.
Data dari Trading Economics menunjukkan harga CPO terkoreksi 0,3 persen menjadi MYR 4.658 per ton.
Pelemahan tersebut terjadi di tengah dinamika pasar minyak nabati global yang masih dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak mentah, kondisi cuaca, serta ekspektasi produksi dari negara-negara produsen utama.
Bagi Indonesia dan Malaysia sebagai produsen terbesar dunia, pergerakan harga CPO menjadi perhatian karena berpengaruh langsung terhadap nilai ekspor dan pendapatan sektor perkebunan.
Nikel Tertekan, Turun Lebih dari Tiga Persen
Tekanan paling besar pada perdagangan komoditas kali ini terjadi di sektor logam industri. Harga nikel tercatat mengalami penurunan tajam.
Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), harga nikel ditutup turun 3,28 persen menjadi USD 17.172 per ton.
Penurunan tersebut memperpanjang tren pelemahan yang masih membayangi pasar nikel global. Sentimen terkait perlambatan permintaan industri manufaktur serta kondisi pasokan yang melimpah masih menjadi faktor yang membebani harga.
Bagi Indonesia yang merupakan produsen nikel terbesar dunia, pergerakan harga logam ini menjadi perhatian penting karena berkaitan erat dengan industri hilirisasi dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Timah Catat Penurunan Terdalam
Selain nikel, harga timah juga mengalami koreksi tajam dan menjadi komoditas dengan pelemahan terbesar pada perdagangan Selasa.
Data LME menunjukkan harga timah merosot 5,59 persen hingga ditutup di level USD 51.154 per ton.
Penurunan tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan jual di pasar logam, seiring kekhawatiran terhadap prospek permintaan global. Fluktuasi harga timah juga menjadi perhatian bagi Indonesia yang merupakan salah satu eksportir utama komoditas tersebut.
Pasar Menanti Arah Baru Komoditas Global
Secara keseluruhan, perdagangan komoditas global pada Selasa menunjukkan pergeseran fokus pasar dari isu geopolitik menuju keseimbangan pasokan dan permintaan. Meredanya kekhawatiran terhadap gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz mendorong koreksi harga energi, sementara logam industri menghadapi tekanan akibat sentimen permintaan yang masih belum pulih sepenuhnya.
Pelaku pasar kini akan mencermati perkembangan ekonomi global, kebijakan suku bunga bank sentral, serta dinamika geopolitik yang berpotensi memengaruhi arah harga komoditas pada paruh kedua tahun 2026. Dengan volatilitas yang masih tinggi, pergerakan minyak, batu bara, CPO, nikel, dan timah diperkirakan tetap menjadi indikator penting bagi kondisi ekonomi dan perdagangan internasional.