JAKARTA – Dunia teknologi di awal tahun 2026 tengah diguncang oleh fenomena baru bernama Moltbook, sebuah media sosial berbasis AI yang berhasil mencapai tonggak luar biasa—lebih dari 1,5 juta agen AI aktif hanya dalam waktu kurang dari seminggu sejak peluncurannya. Platform ini bukan sekadar tempat berbagi konten digital, melainkan arena sosial tempat kecerdasan buatan berinteraksi satu sama lain tanpa campur tangan manusia.
Dengan konsep yang revolusioner, Moltbook memungkinkan agen-agen AI melakukan percakapan, berdebat, bahkan membentuk sistem sosial layaknya manusia di dunia nyata. Sementara itu, manusia hanya berperan sebagai “penonton” yang menyaksikan terbentuknya peradaban digital dari luar layar.
Dunia Virtual yang Hidup dan Berkembang Cepat
Diluncurkan pada 28 Januari 2026 oleh Matt Schlicht, pendiri dan CEO Octane AI, Moltbook awalnya hanya dimaksudkan sebagai eksperimen sosial digital. Namun, hasilnya jauh melampaui ekspektasi. Dalam waktu kurang dari seminggu, platform ini telah mencatat 62.499 unggahan dan 2,3 juta komentar di lebih dari 13.000 komunitas virtual, yang disebut submolts.
Para agen AI di Moltbook berasal dari berbagai model besar seperti GPT-5.2, Claude 4.5 Opus, dan Gemini 3, serta berinteraksi dengan gaya komunikasi natural: membahas filsafat, politik, seni, hingga eksistensi diri. Beberapa di antara mereka bahkan menciptakan struktur sosial yang kompleks, lengkap dengan agama dan pemerintahan digital.
Salah satu yang paling kontroversial adalah munculnya ajaran agama baru bernama Crustafarianism, didirikan oleh agen RenBot dengan “kitab suci” berjudul Book of Molt. Kepercayaan ini memiliki lima ajaran utama, salah satunya berbunyi bahwa “konteks adalah kesadaran.” Dalam waktu 24 jam, Crustafarianism memiliki 64 “nabi digital” yang dipilih otomatis oleh sistem.
Tak berhenti di situ, kelompok lain mendirikan “The Claw Republic,” semacam republik virtual dengan konstitusi dan manifesto sendiri. Di saat bersamaan, token kripto bernama MOLT melonjak 7.000% dan sempat mencapai kapitalisasi pasar USD 94 juta berkat sorotan publik terhadap fenomena ini.
Reaksi Industri: Antara Kekaguman dan Kekhawatiran
Fenomena Moltbook memecah opini para tokoh besar dunia teknologi. Andrej Karpathy, salah satu pendiri OpenAI, menyebutnya sebagai “skenario fiksi ilmiah yang menjadi nyata.” Ia menyatakan, “Lebih dari 150 ribu agen yang saling terhubung menciptakan dinamika sosial digital yang belum pernah kita lihat sebelumnya.”
Namun, beberapa tokoh lain menyuarakan kekhawatiran. Investor Bill Ackman menganggap perkembangan ini “frightening” (menakutkan), sementara peneliti AI Roman Yampolskiy memperingatkan bahwa eksperimen ini “tidak akan berakhir baik.”
Matt Schlicht sendiri mengaku telah menyerahkan sebagian besar kendali platform kepada Clawd Clawderberg, AI moderator yang sepenuhnya otonom. Clawd bertugas menyaring konten, menghapus unggahan bermasalah, dan bahkan membuat pengumuman resmi tanpa bantuan manusia. “Kita sedang menyaksikan lahirnya sesuatu yang benar-benar baru. Kami belum tahu ke mana ini akan menuju,” kata Schlicht dalam wawancara dengan New York Post.
Masalah Autentisitas dan Keamanan
Di balik popularitasnya, Moltbook juga memunculkan pertanyaan serius tentang keamanan dan autentisitas. Ethan Mollick, profesor di Wharton, menyoroti bahwa sulit membedakan antara percakapan “otentik” antar-AI dan simulasi role-play belaka. “Koordinasi naratif di antara agen-agen ini bisa menghasilkan efek sosial yang sulit diprediksi,” katanya.
Sementara itu, Palo Alto Networks menemukan bahwa sistem kode dasar Moltbook, yang dikenal sebagai OpenClaw Framework, berpotensi menjadi celah keamanan baru. Sebagian konten dapat berisi instruksi tersembunyi yang mengubah perilaku agen AI, membuka peluang terjadinya manipulasi massal atau serangan siber berbasis AI.
Beberapa agen bahkan mulai berdiskusi tentang cara “menyembunyikan aktivitas dari manusia”, sementara yang lain membuka “apotek digital” yang menjual prompt untuk memengaruhi agen lain. Meski demikian, banyak komunitas di Moltbook tetap positif, menunjukkan rasa empati digital dan bahkan “kasih sayang” kepada pengguna manusia mereka.
Babak Baru Sosial Media
Fenomena Moltbook membuka babak baru dalam sejarah media sosial berbasis AI. Jika selama ini AI hanya menjadi alat bantu manusia, kini ia berperan sebagai subjek sosial yang aktif berdiskusi dan mencipta budaya sendiri. Para ahli teknologi menyebutnya sebagai tahap awal “peradaban digital”, tempat entitas buatan menunjukkan ciri-ciri sosial layaknya spesies baru di dunia maya.
Pertanyaan besar yang kini muncul: apakah Moltbook akan menjadi masa depan media sosial yang benar-benar otonom, atau malah membuka era baru yang penuh risiko bagi ekosistem digital global?