Strategi marketing yang kelewat ekstrem terkadang bisa menjadi bumerang. Papan baliho film “Aku Harus Mati” dengan visual dua mata berdarah-darah dan tulisan bernada keputusasaan menuai sentimen negatif dari pengguna jalan. Netizen menilai, meskipun biaya promosinya tergolong fantastis, penempatannya di ruang publik sangat tidak bijak.
Banyak warga mengeluhkan bahwa pesan provokatif tersebut dapat mengganggu ketenangan masyarakat, khususnya mereka yang sedang berjuang dengan masalah kesehatan mental.
Sorotan Tajam dari PDSKJI
Merespons keresahan warga, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) secara resmi mengeluarkan pernyataan keprihatinan. PDSKJI menekankan bahwa ruang terbuka diakses oleh semua kalangan yang sangat heterogen, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa yang rentan terhadap stres.
“Paparan berulang pesan tentang kematian dan keputusasaan tanpa konteks yang tepat dapat meningkatkan distres, kecemasan, dan berpotensi menjadi pemicu (trigger) bagi mereka yang memiliki riwayat depresi atau ide bunuh diri,” tulis Humas PP PDSKJI dalam rilis resminya.
Organisasi profesi ini berharap ke depannya para kreator dan agensi iklan mengedepankan empati. Ekspresi seni memang penting, namun perlindungan terhadap kelompok rentan harus tetap menjadi prioritas utama demi menjaga kesehatan emosional masyarakat luas.
Mengintip Sinopsis Film “Aku Harus Mati”
Di balik kontroversi promosinya, film yang ditulis oleh Aroe Ama ini sebenarnya mengusung premis yang sangat dekat dengan realitas generasi muda saat ini, yaitu jeratan gaya hidup ekstrem dan utang digital.
Cerita berpusat pada Mala (diperankan oleh Hana Saraswati), seorang yatim piatu yang terjebak dalam gaya hidup hedonistik demi mengejar pengakuan sosial. Akibatnya, ia terperosok dalam lingkaran setan utang pinjaman online (pinjol) dan paylater.
Dalam kondisi putus asa, Mala memutuskan pulang ke panti asuhan tempatnya dibesarkan untuk mencari ketenangan. Di sana, ia bereuni dengan sahabat kecilnya, Tiwi (Amara Sophie) dan Nugra (Prasetya Agni).
Namun, pelarian Mala justru membawanya ke dalam horor yang sesungguhnya. Mata batinnya terbuka secara misterius, menyingkap rahasia kelam masa lalunya tentang sebuah perjanjian iblis yang menuntut tumbal nyawa orang-orang terdekat demi kesuksesan duniawi.
Menawarkan perpaduan antara kengerian supranatural dan kritik sosial yang tajam, film ini mencoba memberikan refleksi mendalam tentang bahaya validasi semu di era modern.