Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan apresiasi tinggi atas langkah Bank Indonesia (BI) yang memilih untuk menahan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75%. Keputusan ini dinilai menjadi angin segar agar roda perekonomian di sektor riil tetap bergerak kencang.
Berbicara di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Rabu (22/7/2026), Airlangga menegaskan bahwa kebijakan menahan suku bunga sangat krusial untuk mencegah terjadinya kelesuan ekonomi.
“Kami mengapresiasi Bank Indonesia menahan BI Rate. Bagaimanapun, kenaikan tingkat suku bunga itu ada transmisinya ke sektor riil. Dengan ditahan ini, harapannya sektor riil bisa tetap bergerak. Sebab, menaikkan suku bunga itu sama saja kita sedang menginjak rem,” terang Airlangga.
Salurkan Kredit, Gerakkan Roda Ekonomi
Airlangga menekankan pentingnya menjaga credit growth (pertumbuhan penyaluran kredit) demi mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, tingkat suku bunga yang stabil akan memberikan dorongan bagi dunia usaha dan perbankan untuk segera mencairkan pinjaman yang selama ini tertahan.
Pencairan kredit (loan disbursement) menjadi mesin utama penggerak aktivitas bisnis di masyarakat. Keputusan BI ini menjadi momentum tepat bagi sektor perbankan untuk mengakselerasi penyaluran kredit yang belum terealisasi.
Mengenai nilai tukar mata uang, Menko Airlangga menilai kebijakan menahan BI Rate tidak akan merusak stabilitas rupiah. Pasalnya, nilai tukar rupiah saat ini menunjukkan tren yang makin stabil dan tidak lagi mengalami gejolak atau pelemahan ekstrem.
“Rupiah kan kita lihat sudah ada stabilisasi. Yang terpenting sekarang kita fokus mengejar pertumbuhan ekonomi, dan credit growth itu menjadi sangat penting. Sekarang banyak kredit yang belum di-disburse, jadi ini kesempatan bagus untuk penyaluran pinjaman,” pungkasnya.