Teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kembali disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, menjadi korban rekayasa video deepfake yang memperlihatkan seolah-olah Ngarsa Dalem memberikan pernyataan terkait promosi transaksi barang dan koin kuno.
Pihak Pemerintah Daerah (Pemda) DIY memastikan bahwa video yang beredar di aplikasi perpesanan WhatsApp tersebut adalah 100% hoaks hasil rekayasa AI.
Terbongkar Berkat Laporan Putri Sultan (GKR Condrokirono)
Koordinator Substansi Bagian Humas Setda DIY, Ditya Nanaryo Aji, menceritakan bahwa keberadaan video ini pertama kali diketahui dari putri kedua Sultan, GKR Condrokirono, pada Selasa (21/7/2026) sore.
Seorang kolega GKR Condrokirono menerima rekaman tersebut via WhatsApp dan mencoba mengonfirmasi kebenarannya.
Tim Humas Pemda DIY langsung melakukan verifikasi arsip dan memastikan Sultan HB X tidak pernah melakukan wawancara maupun memberikan statement seperti yang ada dalam video. Hasil analisis menunjukkan bahwa gerakan bibir dan artikulasi suara Sultan merupakan hasil sintesis AI.
Modus Penipuan (Scam): Promosi Transaksi dan Sensor Tokoh
Ditya menjelaskan bahwa video palsu tersebut memiliki indikasi kuat ke arah penipuan (scam). Sultan ‘dibuat’ mengimbau publik agar melakukan pembayaran atas suatu barang sebelum barang tersebut dikirimkan.
Video tersebut juga membawa-bawa nama salah satu tokoh publik dan perkara koin kuno yang menyenggol ranah pribadi.
Demi mencegah polemik dan menjaga privasi pihak terkait, Pemda DIY memilih menyensor nama tokoh tersebut saat mengunggah konten klarifikasi di Instagram resmi @humasjogja.
“Video itu menyinggung ranah pribadi dan promosi transaksi barang. Selama kami di Humas, Ngarsa Dalem tidak pernah menyampaikan hal-hal semacam itu. Ini jelas fake dan mengarah ke scam,” tegas Ditya di Kompleks Kepatihan Jogja, Rabu (22/7/2026).
Pemda DIY Utamakan Edukasi Dibanding Jalur Hukum
Meski mencatut nama orang nomor satu di DIY, Pemda DIY hingga saat ini belum membawa kasus ini ke jalur hukum atau kepolisian. Titik berat Pemda DIY saat ini adalah memberikan edukasi dan literasi digital kepada masyarakat agar tidak gampang tertipu.
Masyarakat diimbau untuk selalu memverifikasi ulang setiap video atau rekaman suara yang mengatasnamakan pejabat publik, terutama yang berkaitan dengan transaksi uang atau klaim pribadi.
Jika menerima video serupa di grup WhatsApp atau media sosial, warga diminta untuk langsung mengabaikan dan tidak menyebarkannya kembali.
“Teknologi memberikan banyak manfaat, tetapi bisa disalahgunakan untuk menyesatkan. Apabila menemukan video tersebut, mohon tidak memercayai maupun menyebarluaskannya,” tulis imbauan resmi Pemda DIY.