JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi tekanan pada awal perdagangan Senin, 26 Oktober 2026, meski sebelumnya mencatat penguatan dan berpeluang menguji level resistance 5.500–5.600.
Pergerakan pasar saham domestik masih dibayangi aksi jual investor asing, gejolak harga komoditas, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian ekonomi global.
Hingga pukul 10.00 WIB, IHSG terkoreksi 56,61 poin atau 1,04 persen ke posisi 5.382,64, sedangkan indeks LQ45 melemah 6,67 poin atau 1,22 persen menjadi 540,39.
Pada penutupan perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026, IHSG menguat 0,95 persen atau 51,36 poin ke level 5.439, memberikan peluang bagi indeks untuk melanjutkan pemulihan.
Namun, penguatan tersebut belum menghapus tekanan pasar karena investor asing masih membukukan jual bersih saham atau net sell senilai Rp1,62 triliun.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), GoTo Gojek Tokopedia (GOTO), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menjadi saham yang paling banyak dilepas investor asing.
IHSG Berpeluang Menguji Resistance 5.500–5.600
Tim Phintraco Sekuritas menilai peluang penguatan lanjutan masih terbuka setelah IHSG mampu bertahan di atas level psikologis 5.400 pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.
“IHSG mampu ditutup di atas level 5.400 pada akhir pekan kemarin. Sehingga terbuka potensi penguatan lebih lanjut untuk menguji level resistance berikutnya di 5.500-5.600,” kata Tim Phintraco Sekuritas dalam analisisnya, Senin, 26 Oktober 2026.
Meski demikian, pelaku pasar perlu mencermati sejumlah risiko yang berpotensi menghambat pemulihan indeks, terutama kenaikan harga minyak, koreksi harga emas, dan depresiasi rupiah.
Tim Phintraco menyarankan investor memperhatikan saham sektor energi, batu bara, perusahaan pelayaran tanker, jasa penunjang minyak dan gas bumi, serta emiten yang berorientasi ekspor.
Gejolak Timur Tengah dan Harga Minyak Jadi Sorotan
Perkembangan geopolitik di Timur Tengah diperkirakan turut memengaruhi arah perdagangan saham sepanjang pekan ini, terutama jika muncul indikasi gangguan tambahan terhadap pasokan minyak global.
Kenaikan harga minyak berpotensi memberikan sentimen positif bagi sebagian emiten energi, tetapi juga dapat meningkatkan tekanan biaya bagi sektor yang bergantung pada bahan bakar.
Di sisi lain, koreksi harga emas dan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor yang perlu diperhitungkan investor dalam menentukan strategi investasi.
Keputusan The Fed dan Data Ekonomi AS Dinantikan
Pasar global juga menantikan pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, yang berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga dan pergerakan aset keuangan.
Selain keputusan dan sinyal kebijakan The Fed, investor akan mencermati rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) serta data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada kuartal III 2026.
Kedua indikator tersebut menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai tekanan inflasi dan kekuatan ekonomi AS, sekaligus memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter berikutnya.
Agenda bank sentral Eropa dan Bank of Japan juga menjadi perhatian karena keputusan suku bunga dan panduan kebijakan mereka berpotensi memengaruhi arus modal global.
Investor turut menunggu data awal inflasi dari sejumlah negara utama di Eropa untuk menilai arah tekanan harga dan prospek kebijakan moneter kawasan tersebut.
Investor Cenderung Mencari Aset Aman
Ketidakpastian geopolitik dan ekonomi mendorong pelaku pasar meningkatkan perhatian terhadap aset yang dinilai lebih aman atau safe haven.
“Para investor beralih ke aset safe haven (aman), sehingga mendorong imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun di bawah 5 persen,” kata Tim Phintraco menutup analisisnya.
Bagi investor saham Indonesia, kondisi tersebut menegaskan pentingnya mencermati arus dana asing, pergerakan rupiah, harga komoditas, dan perkembangan kebijakan bank sentral global.
Dengan demikian, peluang IHSG menuju area 5.500–5.600 masih perlu dikonfirmasi oleh kekuatan beli lanjutan dan kemampuan indeks menghadapi tekanan jual pada perdagangan awal pekan.***