JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak menguat pada perdagangan Selasa (28/7/2026), meski tekanan pasar masih membayangi seiring perhatian investor terhadap dinamika harga minyak global dan proses pergantian Gubernur Bank Indonesia.
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, Senin (27/7/2026), IHSG terkoreksi 0,17 persen dan berakhir di level 6.185,78 setelah aksi jual bersih investor asing mencapai Rp492 miliar.
Tekanan jual asing terutama terjadi pada saham TPIA, EMAS, BBRI, ASII, serta DSSA yang menjadi kontributor utama pelemahan indeks.
Meski demikian, analis menilai peluang penguatan masih terbuka dengan target pengujian area resistansi dalam perdagangan hari ini.
“Hari ini IHSG berpeluang untuk menguji level resistansi di 6.220. Tapi setelah itu rentan kembali koreksi dengan target ‘middle term’ di level 6.050-6.150,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman dalam analisisnya, Selasa, 28 Juli 2026.
Menurut Fanny, area support IHSG diperkirakan berada pada kisaran 6.050 hingga 6.150, sedangkan zona resistansi berada di rentang 6.200 sampai 6.220.
Selain faktor teknikal, arah pergerakan indeks juga dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Salah satu pemicu utama ialah kembali melemahnya harga minyak mentah setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai mereda.
Langkah diplomasi Washington yang kembali mendorong penyelesaian damai dengan Iran ikut meredakan lonjakan harga energi di pasar global.
“Turunnya harga minyak membuat saham perusahaan minyak melemah di bursa saham AS. Saham Exxon Mobil misalnya melemah 1,4 persen,” ucap Fanny.
Investor juga menanti hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu, 29 Juli 2026.
Berdasarkan perangkat CME FeedWatch, peluang The Fed mempertahankan suku bunga acuan mencapai sekitar 62 persen.
Pasar turut menunggu rilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Amerika Serikat periode Juni 2026 yang menjadi indikator penting arah inflasi.
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada proses pergantian pimpinan Bank Indonesia setelah pengunduran diri Gubernur BI.
Tim Analis Phintraco Sekuritas menilai penunjukan Gubernur BI definitif akan menjadi faktor penting dalam membentuk sentimen investor.
“Perhatian investor tertuju pada penunjukkan Gubernur BI yang definitif,” ujarnya.
Menurut Tim Phintraco, pasar mengharapkan penunjukkan Gubernur BI baru yang sesuai dengan harapan pasar. Transisi kepimpinan di BI juga diharapkan berjalan lancar.
“Sehingga BI dapat menjaga kredibilitas dan independensi nya sebagai bank sentral. Utamanya dalam menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Tim Analis Phintraco.
Sebaliknya, jika arah kebijakan moneter berubah secara signifikan atau independensi BI dipersepsikan melemah, kondisi tersebut berpotensi memberi tekanan lanjutan terhadap nilai tukar rupiah.
“Selain itu, fluktuasi pasar obligasi pemerintah akan meningkat dan menjadi sentimen negatif terutama terhadap saham-saham perbankan,” kata Tim Phintraco menutup analisisnya.***



