JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi tekanan pada perdagangan Senin (14/9/2026), meski sebelumnya diproyeksikan berpeluang melakukan rebound.
IHSG dibuka melemah ke level 6.525,27 atau turun 0,25 persen dari penutupan akhir pekan.
Pergerakan indeks kemudian semakin tertekan hingga berada di sekitar level 6.450 atau turun 91 poin (1,39 persen) pada pukul 11.00 WIB.
Pada Jumat (11/9/2026), akhir pekan lalu IHSG ditutup melemah 0,73 persen ke posisi 6.541,38 setelah sepanjang perdagangan bergerak volatil.
Koreksi tersebut turut dibayangi aksi jual investor asing yang mencerminkan masih kuatnya tekanan terhadap pasar saham domestik.
Sebelumnya, investor asing mencatat net sell sekitar Rp733 miliar, dengan BBCA, CUAN, CPIN, ADRO, dan BBNI menjadi saham yang banyak dilepas.
Meski tekanan belum mereda, analis BNI Sekuritas masih melihat peluang IHSG berbalik menguat pada awal pekan.
“IHSG berpotensi ‘rebound’ hari ini, seiring dengan penguatan bursa saham Amerika Serikat (AS),” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman.
Fanny memperkirakan area support IHSG berada pada 6.450-6.525, sedangkan resistance diproyeksikan di kisaran 6.600-6.640.
Proyeksi rebound tersebut mendapat dukungan dari performa positif bursa Amerika Serikat pada penutupan perdagangan pekan lalu.
S&P 500 menguat 0,86 persen, Nasdaq naik 0,96 persen, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,98 persen.
“Penguatan indeks saham mengikuti turunannya harga minyak dan data harga konsumen yang solid,” ucap Fanny.
Namun, sentimen suku bunga Amerika Serikat masih menjadi perhatian karena data inflasi terbaru dapat memengaruhi arah kebijakan The Fed.
Kenaikan harga konsumen AS memperkuat perhatian pasar terhadap potensi pengetatan kebijakan moneter untuk menjaga inflasi tetap terkendali.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent mengalami penurunan hampir 3 persen, tetapi masih bertahan di atas USD104 per barel.
“Harga minyak mentah Brent turun hampir 3 persen namun tetap berada di atas USD104 per barel,” ujar Fanny.
Harga minyak sebelumnya terdorong naik akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap keberlanjutan pasokan energi.
Sementara itu, bursa Asia-Pasifik menunjukkan tekanan pada penutupan perdagangan akhir pekan dengan Korea Selatan dan Jepang memimpin pelemahan.
Kospi Korea Selatan merosot 1,9 persen, sedangkan Nikkei 225 Jepang terkoreksi 1,8 persen dalam perdagangan terakhir pekan lalu.
Hang Seng Hong Kong turun 0,6 persen dan S&P/ASX 200 Australia melemah 0,9 persen pada periode yang sama.
Taiex Taiwan jatuh 1,6 persen, sementara indeks CSI 300 China terkoreksi 0,8 persen akibat tekanan sentimen eksternal.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan IHSG pada awal pekan akan sangat dipengaruhi sentimen global, arus asing, minyak, dan ekspektasi kebijakan The Fed.
Investor juga perlu mencermati kemampuan IHSG bertahan di area support sebelum mengantisipasi peluang pemulihan menuju zona resistance.
Secara teknikal, area 6.450 menjadi level penting karena penembusan ke bawahnya berpotensi memperbesar tekanan jual dalam perdagangan berikutnya.
Sebaliknya, kemampuan indeks kembali menembus 6.525 dapat menjadi sinyal awal bagi IHSG untuk menguji level yang lebih tinggi.***