JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi sorotan publik pekan ini setelah mengalami gejolak pasar besar-besaran.
Gejolak pasar memuncak setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan ekstrem dua hari berturut-turut hingga memicu trading halt dan berujung pada pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman.
Dalam dua hari terakhir, IHSG menjadi pusat perhatian pelaku pasar karena koreksi tajam yang mencerminkan tekanan jual masif dan kekhawatiran investor terhadap stabilitas bursa domestik.
Penghentian sementara perdagangan pertama kali diterapkan pada Rabu (28/1) ketika IHSG terperosok lebih dari 8 persen dan jatuh ke area 7.600.
Tekanan belum mereda pada Kamis (29/1) karena IHSG kembali melemah hingga sekitar 10 persen sebelum otoritas bursa kembali melakukan trading halt.
Meski perdagangan Jumat (30/1) menunjukkan tanda pemulihan, Iman Rachman menyatakan mundur dari jabatannya sebagai bentuk tanggung jawab moral atas gejolak pasar yang terjadi.
Keputusan tersebut sekaligus mengakhiri masa kepemimpinannya di BEI sebelum periode jabatan 2022–2026 berakhir pada pertengahan 2026.
Pernyataan pengunduran diri disampaikan langsung kepada awak media pada Jumat (30/1/2026) sebagai respons atas kondisi pasar modal yang bergejolak dalam dua hari terakhir.
Dalam keterangannya, Iman Rachman menegaskan bahwa langkah mundur tersebut merupakan bentuk tanggung jawab pribadi dan etika kepemimpinan di tengah tekanan yang dialami pasar, meskipun perdagangan pagi ini mulai menunjukkan perbaikan.
Situasi ini terjadi pada fase krusial kepemimpinannya ketika stabilitas bursa domestik diuji oleh sentimen global dan tekanan jual yang memicu trading halt dua hari berturut-turut.
Sebagai pucuk pimpinan BEI, Iman Rachman selama ini dipandang memegang peran strategis dalam menjaga kepercayaan investor serta memastikan mekanisme perdagangan berjalan tertib.
Sebelum memimpin bursa, Iman dikenal luas sebagai bankir investasi dan eksekutif korporasi dengan rekam jejak panjang di perusahaan-perusahaan pelat merah.
Sepanjang kariernya, ia juga pernah menjabat Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) pada 2019–2020 sebelum bergabung ke Pertamina.
Direksi Pertamina-Pelindo
Ia pernah menjabat Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero) pada periode 2020–2022 yang memperkuat pengalamannya dalam pengelolaan bisnis berskala besar.
Sebelumnya, ia juga mengemban amanah sebagai Direktur Keuangan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) pada 2016–2018 dan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) pada 2018–2019 dengan fokus restrukturisasi dan pendanaan.
Jejaknya di pasar modal semakin kuat saat berkiprah di PT Mandiri Sekuritas sebagai Direktur Investment Banking selama lebih dari satu dekade sejak 2003 hingga 2016.
Pengalaman tersebut membentuk pemahamannya terhadap proses IPO, aksi korporasi, serta dinamika hubungan emiten dan investor.
Memasuki 2026, tantangan utama yang dihadapi BEI adalah menjaga pertumbuhan investor ritel, khususnya generasi muda, serta meningkatkan likuiditas transaksi harian.
Di bawah kepemimpinannya, BEI juga mendorong agenda keberlanjutan melalui pengembangan Bursa Karbon atau IDXCarbon sebagai bagian dari komitmen ESG.
Penghargaan
Atas kontribusinya di dunia korporasi dan keuangan, ia menerima berbagai penghargaan nasional yang mencerminkan reputasi profesionalnya.
Penghargaan tersebut antara lain Indonesia Future Business Leader 2016, 2nd Winner Indonesia Best CFO 2017 dan 2018 versi Swanetwork, serta CEO Visioner Terbaik 2020 dari BUMN Track.
Pengunduran diri Iman Rachman kini membuka babak baru bagi BEI dalam menghadapi tantangan pemulihan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Iman Rachman lahir di Jakarta pada 31 Mei 1972 dari keluarga asal Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumatera Barat, dengan latar belakang pendidikan ekonomi dan manajemen internasional.
Ia meraih gelar Sarjana Ekonomi Keuangan dari Universitas Padjadjaran pada 1995 dan gelar magister bisnis dari Leeds University Business School, Inggris, pada 1997.***