Efek domino ketegangan global antara Amerika Serikat dan Iran kini merembet hingga ke kantong belanja masyarakat. Akibat terganggunya jalur impor bahan baku, harga berbagai jenis plastik di pasar tradisional melonjak tajam hingga menyentuh angka 50%. Fenomena ini membuat para pedagang pasar dan ibu rumah tangga mulai “gerah” menghadapi kenaikan biaya operasional sehari-hari.
Konflik bersenjata di Timur Tengah ternyata tidak hanya soal peluru dan rudal, tapi juga soal harga kantong kresek di pasar lokal. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) melaporkan adanya kenaikan harga produk plastik yang sangat signifikan, mencapai 50% dari harga normal. Lonjakan ini dipicu oleh terhambatnya pasokan bahan baku plastik impor akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketua Bidang Infokom DPP IKAPPI, Reynaldi Sarijowan, mengungkapkan bahwa tren kenaikan ini sebenarnya sudah terdeteksi sejak awal Ramadan, namun mencapai puncaknya pada pekan ini.
Kresek Rp10 Ribu Kini Jadi Rp15 Ribu
Kenaikan harga ini terasa sangat nyata di lapangan. Reynaldi mencontohkan, plastik kresek yang biasanya dibanderol Rp10.000 per pak, kini melonjak menjadi Rp15.000. Begitu pula dengan plastik jenis lain yang harganya merangkak naik dari Rp20.000 menjadi Rp25.000.
“Ini adalah risiko nyata ketika kita masih sangat bergantung pada bahan baku impor. Dampak perang di Timur Tengah memberikan implikasi serius ke dalam negeri, dan kami pantau kenaikan ini masih berpotensi terus berlanjut,” ujar Reynaldi, Minggu (5/4/2026).
Kenaikan harga plastik bukan perkara sepele bagi pedagang pasar. Sebagai alat bungkus utama, melonjaknya harga plastik otomatis meningkatkan biaya operasional pedagang. Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu kenaikan harga komoditas pangan yang dijual, karena pedagang harus menutupi selisih biaya bungkus tersebut.
“Emak-emak dan pedagang yang setiap hari menggunakan plastik untuk dagangannya tentu sudah teriak-teriak. Jika biaya plastik terus mahal, harga barang dagangan di pasaran pun berpotensi ikut naik,” tambahnya.
Situasi ini kembali menjadi pengingat keras bagi industri dalam negeri untuk mulai mengurangi ketergantungan pada bahan baku luar negeri. Selama rantai pasok global masih terganggu oleh konflik geopolitik, stabilitas harga barang konsumsi di pasar tradisional akan terus dibayang-bayangi oleh ketidakpastian global.