MOSKOW, RUSIA – India secara resmi mengusulkan penggunaan mata uang rupee dalam perdagangan dengan Rusia pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 di Moskow. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global.
Menurut laporan, delegasi India akan mengusulkan intensifikasi perdagangan berbasis rupee dalam diskusi dengan Rusia, salah satu anggota kunci BRICS.
“India akan membahas perdagangan denominasi rupee dengan Rusia, anggota BRICS, dalam pertemuan delegasi tingkat tinggi di Moskow pekan ini,” demikian pernyataan resmi yang dikutip dari sumber terpercaya.
Langkah ini bukan sekadar wacana, melainkan strategi konkret untuk memperkuat posisi ekonomi India di tengah tekanan sanksi Barat terhadap beberapa anggota BRICS.
Isu dedolarisasi bukan hal baru di aliansi BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, serta mitra baru seperti Indonesia, Mesir, dan Iran. Rusia, yang menghadapi sanksi berat sejak konflik Ukraina pada 2022, telah lama menggaungkan platform pembayaran berbasis mata uang lokal untuk mengurangi risiko sanksi Barat.
“Moskow siap menawarkan mekanisme untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh sanksi.” kata Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov
India, meski sempat ragu terhadap agenda dedolarisasi, kini menunjukkan sikap proaktif. Pada Agustus 2025, India menerbitkan surat edaran resmi kepada negara-negara BRICS untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Keputusan ini menandai perubahan arah yang signifikan, terutama setelah India sempat menyatakan ketidaksetujuannya terhadap dedolarisasi pada Mei 2025.
“Kami tidak pernah secara aktif menargetkan dolar AS. Hal ini bukanlah bagian dari kebijakan ekonomi atau kebijakan politik atau strategis kami,” ujar Menteri Luar Negeri India, S. Jaishankar, pada Oktober 2024.
Namun, tekanan global dan peluang ekonomi tampaknya mendorong India untuk bergabung dalam arus dedolarisasi.
Perubahan sikap India diduga dipicu oleh dinamika perdagangan global yang kian kompleks, termasuk ancaman tarif tinggi dari Presiden AS, Donald Trump.
Trump mengancam akan menerapkan tarif 100% untuk barang dari negara-negara yang mengurangi penggunaan dolar AS, sebuah kebijakan yang dapat mengguncang ekspor anggota BRICS. Di sisi lain, India melihat peluang strategis untuk memperkuat rupee sebagai mata uang perdagangan, terutama dengan Rusia, yang merupakan mitra dagang penting di sektor energi dan pertahanan.
Selain itu, langkah India sejalan dengan upaya BRICS untuk merombak arsitektur keuangan global. Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dalam KTT BRICS sebelumnya, menyerukan reformasi mendesak terhadap sistem keuangan internasional yang didominasi Barat.
Sementara itu, Brasil dan Tiongkok juga memperkuat komitmen untuk perdagangan bebas dan penggunaan mata uang lokal, seperti yang terlihat dalam 20 kesepakatan bilateral yang ditandatangani pada Mei 2025.