JAKARTA – Iran melancarkan serangan rudal ke Tel Aviv dengan hulu ledak cluster sebagai balasan atas pembunuhan Kepala Keamanan Iran, Ali Larijani, oleh Israel. Televisi pemerintah Iran pada Rabu (18/3/2026) melaporkan serangan itu menewaskan dua orang di kawasan padat penduduk dekat fasilitas militer penting, menambah jumlah korban tewas di Israel menjadi sedikitnya 14 orang.
Dilansir dari Reuters, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) menyebut rudal Khorramshahr 4 dan Qadr digunakan dalam serangan tersebut. Israel menuduh Iran berulang kali memakai hulu ledak cluster yang menyebar menjadi bom-bom kecil di udara sehingga sulit dicegat.
Di Iran, sebuah proyektil jatuh di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr tanpa menimbulkan korban. Kepala IAEA Rafael Grossi menyerukan semua pihak menahan diri untuk mencegah risiko kecelakaan nuklir.
Pemerintah Iran mengonfirmasi tewasnya Larijani, pejabat paling senior yang menjadi target sejak awal perang AS-Israel. Putra Larijani dan deputinya, Alireza Bayat, juga tewas dalam serangan Israel. Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menolak usulan gencatan senjata. “Belum saatnya untuk berdamai hingga Amerika Serikat dan Israel berlutut, menerima kekalahan, dan membayar kompensasi,” kata seorang pejabat senior Iran.
Iran juga mengeksekusi seorang pria bernama Kurosh Keyvani yang divonis bersalah memata-matai untuk Mossad.
Serangan Israel di Lebanon
Israel memperluas serangan udara ke Lebanon, termasuk menghantam pusat Beirut. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 20 orang tewas dan puluhan luka-luka dalam serangan Rabu. Kampanye ini menandai intensifikasi Israel terhadap Hizbullah yang didukung Iran.
AS Target Pesisir Iran
Militer Amerika Serikat mengklaim mengebom lokasi di pesisir Iran dekat Selat Hormuz dengan bom pembobol bunker, menyebut rudal anti-kapal Iran mengancam pelayaran internasional. Selat yang menjadi jalur seperlima perdagangan minyak dunia itu sebagian besar tertutup, memicu lonjakan harga minyak hingga di atas $100 per barel.
Krisis energi global pun membayangi. Program Pangan Dunia memperingatkan puluhan juta orang berisiko kelaparan akut jika perang berlanjut hingga pertengahan tahun. Maskapai internasional juga mengeluhkan biaya bahan bakar jet yang melonjak, menyebabkan pembatalan dan pengalihan rute penerbangan.