JAKARTA – Iran menyampaikan melalui perantara Pakistan bahwa mereka tidak akan menghadiri negosiasi nuklir yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad pada Rabu (22/4/2026), menurut laporan media Iran. Keputusan ini menimbulkan ketidakpastian atas masa depan gencatan senjata yang rapuh.
Pengumuman tersebut bertepatan dengan pembatalan kunjungan Wakil Presiden AS JD Vance ke Islamabad, lokasi yang semula direncanakan menjadi tempat perundingan. Baik Washington maupun Teheran telah mengindikasikan kesiapan untuk kembali melakukan operasi militer jika gencatan senjata berakhir tanpa kesepakatan perpanjangan, memicu kekhawatiran di kalangan pemerintah regional dan pasar energi.
Dilansir Türkiyetoday, Rabu (22//4/2026), seorang komandan militer Iran, Jenderal Majid Mousavi, memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak mengizinkan wilayah mereka digunakan untuk serangan terhadap Iran. “Jika negara-negara tetangga di selatan mengizinkan pasukan musuh menggunakan fasilitas mereka untuk menyerang Iran, mereka harus mengucapkan selamat tinggal pada produksi minyak di kawasan Timur Tengah,” ujarnya kepada sebuah media Iran.
Ancaman terhadap infrastruktur minyak regional muncul di tengah ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Harga minyak mentah bertahan sedikit di bawah 100 dolar AS per barel, sementara pelaku pasar menunggu kepastian apakah gencatan senjata akan berlanjut.
Kegagalan perundingan akan menempatkan negara-negara produsen Teluk dalam posisi sulit, terjebak antara hubungan keamanan dengan Washington dan risiko pembalasan dari Iran. Pakistan, yang berperan sebagai jembatan diplomatik antara AS dan Iran, kini menghadapi tekanan besar untuk menjaga jalur dialog tetap terbuka.
Hingga kini, belum ada pengumuman resmi mengenai penjadwalan ulang negosiasi.