JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan peringatan Isra Mikraj bukan sekadar ritual tahunan.
Melainkan momentum strategis untuk memperdalam keimanan dan mempererat hubungan spiritual umat Islam dengan Allah SWT di tengah dinamika kehidupan modern.
Wakil Ketua Umum MUI Buya Dr. Anwar Abbas menilai peristiwa Isra dan Mikraj mengandung pesan mendalam tentang pentingnya upaya manusia untuk terus mendekatkan diri kepada Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan.
“Karena dengan peristiwa Isra dan Mikraj itu beliau bisa dekat dengan Tuhan ya. Oleh karena itu, ibrahnya kita dituntut untuk bisa mendekatkan diri dengan Tuhan,” katanya dikutip dari RRI, Jumat (16/1/2026).
Ia menjelaskan kedekatan kepada Allah SWT tidak berhenti pada pelaksanaan kewajiban formal, tetapi harus diwujudkan melalui kepatuhan menjalankan perintah dan kesungguhan menjauhi larangan-Nya.
Menurutnya, keteladanan tersebut telah dicontohkan secara nyata oleh Nabi Muhammad SAW melalui perilaku luhur dalam kehidupan sehari-hari.
Buya Anwar mengisahkan bagaimana Rasulullah SAW tetap menunjukkan akhlak mulia kepada seseorang yang kerap mencaci dan memusuhinya semasa hidup.
“Orang itu setiap hari mencaci-maki nabi. Tapi nabi tetap membalasnya dengan perilaku yang mulia kepada orang tersebut,” ujarnya.
Ia menambahkan, puncak keteladanan itu terlihat ketika Nabi Muhammad SAW justru menyuapi orang tersebut saat sakit, sebuah sikap yang hingga kini dikenang umat Islam sebagai simbol akhlak agung Rasulullah SAW.
Selain pesan spiritual, nilai Isra Mikraj juga dinilai relevan dalam memperkuat persatuan serta toleransi antarumat beragama di Indonesia yang majemuk.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa toleransi sejati tidak dimaknai sebagai upaya menyeragamkan perbedaan, melainkan membangun sikap saling menghormati di tengah keberagaman.
“Biarlah yang berbeda itu tetap berbeda, dan yang sama tetap sama. Yang penting, perbedaan tidak membuat kita berjarak satu sama lain,” ucapnya.***