GAZA, PALESTINA – Jalur Gaza kembali menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan yang mengerikan. Hingga Minggu (27/4/2025), serangan udara dan darat Israel telah merenggut nyawa 52.243 warga Gaza.
Menurut laporan resmi Kementerian Kesehatan Palestina. Angka ini menunjukkan eskalasi kekerasan yang semakin brutal, terutama setelah gencatan senjata tahap pertama yang sempat memberi harapan damai pada Januari lalu, kini runtuh tanpa sisa.
Kengerian di Balik Reruntuhan Gaza
Konflik yang terus membara ini meninggalkan luka mendalam bagi warga sipil. Serangan Israel yang kini tak lagi memandang batas kemanusiaan, menghantam berbagai sasaran, mulai dari tenda pengungsian, rumah warga, hingga rumah sakit. “Tidak ada lagi aturan,” demikian laporan dari sumber medis di Gaza, yang mencatat dua perempuan tewas dalam serangan di Wadi Al Arais, Lingkungan Shujaiya, Kota Gaza. Di tempat lain, serangan udara di Lingkungan Al Tuffah merenggut tiga nyawa, sementara serangan drone menewaskan lima warga sipil lainnya di wilayah yang sama.
Data terbaru menunjukkan bahwa mayoritas korban adalah kelompok rentan, termasuk anak-anak, perempuan, dan lansia. Ribuan lainnya masih terperangkap di bawah puing-puing, dengan tim penyelamat kesulitan menjangkau mereka akibat intensitas serangan yang tak henti.
Gencatan Senjata yang Hanya Ilusi
Januari 2025 sempat menjadi titik terang dengan adanya gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Namun, harapan itu pupus ketika Israel kembali melancarkan serangan besar-besaran sejak 18 Maret 2025. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan disebut telah mendapat lampu hijau dari sekutu dekatnya, Amerika Serikat, untuk melanjutkan operasi militer.
“Serangan ini adalah bukti bahwa Israel enggan melanjutkan gencatan senjata,” tuding Hamas dalam pernyataan resminya, sebagaimana dilansir Anadolu Ajansı. Sementara itu, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza sejak November 2024.
Dampak Kemanusiaan yang Meresahkan
Selain korban jiwa, lebih dari 113.900 warga Palestina dilaporkan terluka sejak konflik ini meletus pada Oktober 2023. Ratusan ribu lainnya terpaksa mengungsi, meninggalkan rumah mereka yang kini tinggal puing. Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan, sekitar 500.000 warga Gaza telah mengungsi sejak gencatan senjata berakhir pada Maret 2025.
Krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah dengan terbatasnya akses terhadap makanan, air bersih, dan layanan medis.
“Banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalan karena tim penyelamat tidak dapat menjangkau mereka,” ungkap juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza.
Dunia Menyaksikan, Tapi Aksi Nyata Minim
Komunitas internasional terus menyuarakan keprihatinan atas situasi di Gaza. Paus Fransiskus, sebelum wafatnya pada 2024, sempat menyerukan gencatan senjata segera. Namun, seruan-seruan tersebut seolah tenggelam di tengah kompleksitas geopolitik dan kepentingan global.
Sementara itu, media sosial, khususnya platform X, dipenuhi dengan ungkapan duka dan kemarahan. Sebuah unggahan dari akun @sahabatalaqsha menyebutkan, “Banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan dan tergeletak di jalan, tim penyelamat tidak dapat menjangkau mereka.”
Tragedi di Gaza bukan sekadar angka, melainkan kisah pilu ribuan keluarga yang kehilangan harapan. Tekanan internasional terhadap Israel untuk menghentikan serangan dan kembali ke meja perundingan kini menjadi lebih mendesak. Sementara itu, bantuan kemanusiaan harus segera disalurkan untuk meringankan penderitaan warga sipil yang terjebak dalam konflik ini.
Dengan situasi yang terus memburuk, dunia diajak untuk tidak hanya menyaksikan, tetapi bertindak. Gaza bukan hanya tentang konflik politik, tetapi juga tentang kemanusiaan yang sedang diuji.