Di sela-sela agenda diplomatik yang super padat, CEO Nvidia Jensen Huang sukses mencuri perhatian publik China pada Jumat (15/5/2026). Pria di balik kemudi perusahaan paling bernilai di dunia dengan kapitalisasi pasar menembus USD 5,5 triliun ini tertangkap kamera sedang santai menikmati street food ikonik di kawasan bersejarah hutong Nanluoguxiang, Beijing.
Masih dengan gaya andalannya—mengenakan jaket kulit hitam—Huang duduk di kursi plastik pinggir jalan di kedai Fangzhuanchang No. 69, sebuah warung makan legendaris yang memegang predikat Michelin Bib Gourmand.
Di sana, ia tampak lahap menyantap semangkuk zhajiangmian, mie gandum khas Beijing yang disiram saus kacang kedelai fermentasi. Tak cuma itu, media lokal China melaporkan Huang juga menantang dirinya mencicipi douzhi—minuman fermentasi kacang hijau tradisional Beijing yang terkenal memiliki aroma sangat menyengat dan rasa yang tajam.
Aksi santai ini memicu kerumunan warga yang antusias meminta swafoto. Netizen China di media sosial Weibo pun ramai-ramai memuji Huang sebagai sosok konglomerat yang sangat “membumi” karena tidak canggung berbaur dengan kehidupan jalanan masyarakat biasa.
Undangan Kilat Donald Trump dan Urusan Chip AI
Tur kuliner santai ini sebenarnya berlangsung di tengah jadwal pekanan Huang yang sangat krusial. Huang terbang ke Beijing setelah mendapat undangan mendadak dari Presiden AS Donald Trump untuk bergabung dalam delegasi resmi negara. Ia bahkan ikut menaiki pesawat kepresidenan Air Force One saat transit di Alaska pada Selasa lalu.
Kehadiran Huang di Beijing menjadi misi penting karena situasi bisnis Nvidia di China sedang berada di titik kritis. Akibat pengetatan keran ekspor dari pemerintah AS, pangsa pasar chip AI Nvidia di China sempat anjlok drastis hingga menyentuh angka nol.
Namun, angin segar berembus pekan ini setelah muncul laporan bahwa Washington mulai melunak dan menyetujui penjualan chip canggih Nvidia H200 kepada sekitar sepuluh raksasa teknologi China. Menjelang rilis laporan keuangan Nvidia pada 20 Mei mendatang, kepastian akses pasar di Negeri Tirai Bambu ini menjadi teka-teki yang paling dinantikan oleh para investor global.