Bencana kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai memukul sektor industri perhotelan dan pariwisata di Johor, Malaysia. Para pelaku usaha perhotelan melaporkan terjadinya penurunan angka pemesanan kamar hingga 20 persen dalam beberapa pekan terakhir.
Ketua Asosiasi Hotel Malaysia (MAH) Cabang Johor, Ivan Teo, mengonfirmasi bahwa dampak penurunan okupansi mulai terasa signifikan sejak asap karhutla menyelimuti kawasan tersebut.
“Penurunan ini tentu membawa dampak nyata. Mengingat negara-negara tetangga di kawasan juga terdampak kabut asap, masyarakat cenderung menahan diri untuk bepergian,” ujar Teo mengutip The Straits Times, Jumat (23/10/2026).
Turis Singapura Jadi Penyelamat Pasar Johor
Kendati terpukul, Teo menilai dampak ekonomi yang dialami Johor relatif lebih terkendali dibandingkan negara bagian Malaysia lainnya. Hal ini disebabkan oleh tingginya mobilitas wisatawan asal Singapura yang tetap menyeberang saat akhir pekan.
Hingga saat ini, belum terjadi gelombang pembatalan (cancellation) kamar dalam skala masif karena mayoritas tamu menerapkan tren pemesanan mendadak (last-minute booking).
Namun, dampak paling terasa menghantam sektor pariwisata luar ruangan (outdoor) dan kegiatan olahraga.
“Johor sangat kondang dengan keindahan pulau dan wisata bersepeda di udara segar. Bencana kabut asap ini secara langsung merampas kenyamanan tersebut dari warga lokal maupun wisatawan internasional,” tegas Teo.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Asosiasi Hotel Bujet Malaysia (MyBHA) Cabang Johor, Jarod Chia, mencatat penurunan tingkat hunian hotel murah berada di kisaran 15 hingga 20 persen selama dua pekan terakhir.
Peringatan Keselamatan: Turis Diimbau Menunda Wisata Bahari
Menanggapi memburuknya kualitas udara dan penurunan jarak pandang (visibility) di perairan, Asosiasi Penyelam Malaysia (MSDA) menerbitkan imbauan tegas agar wisatawan menunda atau membatalkan seluruh aktivitas wisata bahari, termasuk diving dan snorkeling.
Presiden MSDA, Aminor Azmi Abdul Latip, meminta para wisatawan memahami dan menghormati keputusan operator kapal yang memilih membatalkan keberangkatan demi keselamatan jiwa.
MSDA menekankan panduan keselamatan bagi para penyedia jasa wisata:
-
Cek Indeks Polutan Udara (API): Evaluasi berkala terhadap kualitas udara dan jarak pandang laut sebelum kapal berlayar.
-
Opsi Opsi Penjadwalan Ulang (Reschedule): Operator wajib memberikan penjelasan transparan serta opsi penyesuaian jadwal atau refund sesuai ketentuan.
-
Kesiapsiagaan Tim SAR: Peningkatan standar evakuasi darurat, dengan catatan kesiapan tim medis tidak boleh dijadikan alasan untuk nekad menerjang cuaca buruk.