Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melahap ratusan ribu hektar kawasan hutan di Sumatra dan Kalimantan kini memicu krisis lingkungan hidup berskala regional. Asap pekat tidak hanya mengepung wilayah dalam negeri, tetapi juga melintasi batas negara hingga menyelimuti Singapura, Malaysia, Filipina, sampai Timor Leste.
Eskalasi kabut asap lintas batas (transboundary haze) ini memaksa sejumlah negara tetangga mengambil langkah tanggap darurat demi melindungi kesehatan publik.
Timor Leste Lumpuh: Seluruh Sekolah Diliburkan 3 Hari
Pemerintah Timor Leste secara resmi mengumumkan penutupan seluruh fasilitas sekolah di tingkat nasional selama tiga hari, terhitung mulai Kamis (14/10/2026). Kementerian Pendidikan setempat mengimbau para orang tua untuk memastikan anak-anak tetap berada di dalam rumah dan wajib mengenakan masker jika harus beraktivitas di luar.
“Langkah ini merupakan keharusan sebagai bentuk pencegahan guna melindungi kesehatan para siswa, guru, dan komunitas pendidikan dari bahaya paparan kualitas udara yang memburuk,” bunyi pernyataan resmi Pemerintah Timor Leste, dikutip dari AFP.
Singapura Aktifkan Subsidi Berobat dan Pembagian Masker N95
Di Singapura, polusi udara menembus level mengkhawatirkan. Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) mencatat konsentrasi partikel halus PM2,5 di wilayah barat mencapai 288 mikrogram per meter kubik pada Rabu (13/10/2026). Angka ini melonjak tajam melampaui ambang batas aman tahunan rekomendasi WHO yang hanya 5 mikrogram.
Menyikapi krisis ini, Pemerintah Singapura mengambil tindakan cepat yaitu mengaktifkan kembali skema subsidi pengobatan khusus dampak kabut asap—kebijakan darurat yang terakhir kali digulirkan pada krisis karhutla hebat tahun 2015.
Pemerintah Singapura juga akan mengirimkan pasokan masker N95 gratis bagi kelompok rentan serta pekerja garda depan, termasuk pengemudi transportasi umum dan kurir pengiriman.
Malaysia Buka Inisiatif Diplomasi Penanganan Bersama
Sementara itu, Pemerintah Malaysia bergerak cepat membangun komunikasi diplomatik dengan Indonesia guna memitigasi krisis asap yang kian mengepung wilayah Semenanjung dan Sarawak.
Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, mengonfirmasi bahwa otoritas kedua negara telah memulai jalur diplomasi untuk merumuskan formula penanggulangan bersama.
“Otoritas kedua negara telah memulai pembicaraan teknis mengenai bentuk kerja sama penanganan kabut asap yang kondisinya kian memburuk,” ujar Mohamad Hasan kepada kantor berita Bernama.
Krisis kabut asap ini mempertegas perlunya koordinasi darurat antarnegara ASEAN dalam menyikapi ancaman bencana ekologis yang berdampak pada kesehatan dan roda ekonomi kawasan.