JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan tingginya risiko gangguan kesehatan jiwa pada anak dan remaja melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Hingga Juli 2026, sebanyak 34.961 anak dan remaja atau 1,08 persen dari kelompok yang diperiksa terdeteksi mengalami gejala depresi.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan temuan tersebut menjadi perhatian karena rasio risiko gangguan kesehatan jiwa pada kelompok anak usia sekolah dan remaja tercatat lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa maupun lansia.
Dari sekitar 33 juta penduduk yang telah menjalani pemeriksaan melalui program CKG, Kemenkes mencatat gejala depresi dan gangguan kecemasan pada anak serta remaja berada pada tingkat yang cukup tinggi.
“Di cek kesehatan gratis per Juli 2026 untuk remaja dan anak sekolah, itu kita temukan kira-kira 34 ribuan sampai 35 ribu atau 1,08 persen anak-anak dengan gangguan jiwa. Dan dewasa itu kira-kira 186 ribu dewasa dengan gangguan jiwa depresi, dan yang nomor dua cemas,” ujar Dante saat temu media di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan, Jakarta Barat, Jumat (4/9/2026).
Berdasarkan data pemeriksaan CKG, selain 34.961 anak dan remaja yang terdeteksi mengalami gejala depresi, terdapat 33.290 orang atau 1,03 persen yang menunjukkan gejala gangguan kecemasan.
Angka tersebut berbeda dengan kelompok dewasa dan lansia. Pada kelompok tersebut, Kemenkes mencatat 186.629 orang atau 0,66 persen mengalami depresi. Sementara itu, sebanyak 157.434 orang atau 0,56 persen terdeteksi mengalami gangguan kecemasan.
Dante menjelaskan depresi dan gangguan kecemasan memiliki karakteristik yang berbeda. Depresi antara lain dapat ditandai dengan suasana hati yang menurun, tubuh terasa lemas, perubahan pola tidur, hingga munculnya perasaan tidak berharga.
Sementara gangguan kecemasan lebih banyak ditandai dengan rasa khawatir atau cemas yang muncul secara berlebihan.
Menurut Dante, angka yang ditemukan melalui pemeriksaan CKG tersebut belum sepenuhnya menggambarkan besarnya persoalan gangguan kesehatan jiwa di masyarakat. Ia menyebut masih terdapat kemungkinan banyak kasus yang belum terdeteksi.
“Ini juga fenomenanya gunung es, banyak sekali. Ini baru terdeteksi di CKG, yang tadi data dari WHO lebih besar lagi angkanya,” kata Dante.
Depresi pada Ibu Hamil dan Pascamelahirkan
Skrining kesehatan jiwa Kemenkes juga menemukan persoalan serupa pada kelompok ibu hamil dan ibu yang baru melahirkan. Pemeriksaan terhadap sekitar 230 ribu ibu hamil hingga Juli 2026 menunjukkan 17.922 orang atau 7,77 persen terindikasi mengalami depresi.
Dari jumlah tersebut, 975 orang atau 0,42 persen tercatat melaporkan adanya dorongan maupun keinginan untuk mengakhiri hidup.
Sementara pada kelompok ibu nifas, pemeriksaan terhadap sekitar 27 ribu orang menemukan 1.058 orang atau 3,79 persen mengalami depresi. Sebanyak 80 orang atau 0,29 persen di antaranya juga terdeteksi memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup.
Dante mengatakan gangguan psikologis dapat muncul sejak masa kehamilan dan berlanjut setelah persalinan. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pemeriksaan kesehatan jiwa yang dilakukan pemerintah.
“Banyak sekali yang baby blues dan pasca melahirkan atau pada saat hamil mengalami gangguan kejiwaan. Yang tertinggi adalah depresi,” tegas Dante.
Perubahan Tidur hingga Berat Badan Perlu Diwaspadai
Kemenkes mengingatkan pentingnya mengenali perubahan kondisi seseorang sebagai langkah awal mendeteksi gangguan kesehatan jiwa. Menurut Dante, tanda-tanda awal dapat terlihat melalui perubahan fisik, emosi, maupun perilaku.
Salah satu perubahan yang paling mudah diamati adalah pola tidur. Gangguan tidur yang berlangsung dan disertai perubahan kondisi tubuh perlu mendapat perhatian lebih.
“Yang muncul dalam bentuk fisik itu yang paling sering ada gangguan pola tidur. Nah, kalau tidurnya udah keganggu, udah susah tidur, nah hati-hati,” tutur Dante.
Selain gangguan tidur, kondisi fisik yang terus-menerus terasa lemas juga dapat menjadi salah satu sinyal. Perubahan berat badan yang cukup mencolok turut perlu diperhatikan, terutama jika berkaitan dengan perubahan pola makan.
Dante mencontohkan seseorang yang mengalami penurunan berat badan karena kehilangan keinginan untuk makan. Sebaliknya, peningkatan berat badan juga dapat terjadi ketika seseorang menjadikan makanan sebagai pelampiasan.
“Kemudian merasa lemas berulang, kemudian perubahan berat badan yang tadinya gemuk kok menjadi kurus karena dia nggak mau makan, atau dari kurus jadi gemuk karena dia makan terus sebagai pelampiasan depresinya, itu juga jangan-jangan gangguan jiwa,” tutupnya.