JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengerahkan 314 tenaga kesehatan ke sejumlah wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul peningkatan kasus gangguan pernapasan akibat paparan asap. Kalimantan Tengah menjadi daerah dengan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) paling tinggi.
Data Kemenkes per 21 Agustus 2026 menunjukkan, kasus ISPA di Kalimantan Tengah meningkat 78,1 persen hanya dalam sepekan. Jumlah kasus bertambah dari 402 menjadi 716 kasus.
Kenaikan kasus juga terjadi di Kalimantan Barat. Sejak awal 2026, tercatat 151 kasus ISPA dengan wilayah yang mengalami peningkatan paling menonjol meliputi Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah.
Selain ISPA, gangguan kesehatan lain turut dilaporkan meningkat di sejumlah wilayah yang terdampak asap karhutla. Keluhan tersebut antara lain asma serta iritasi pada mata dan kulit, termasuk di wilayah Ruai dan Kalimantan Selatan.
Kemenkes mencatat, dampak asap karhutla kini telah menjangkau tujuh provinsi. Wilayah tersebut yakni Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Dari tujuh provinsi tersebut, enam daerah telah menetapkan status siaga darurat bencana karhutla. Meski kasus gangguan kesehatan meningkat, hingga saat ini belum terdapat laporan korban meninggal dunia akibat dampak karhutla.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin mengatakan, pengerahan tenaga kesehatan diprioritaskan ke daerah dengan tingkat paparan asap paling tinggi.
“Sebagai upaya mitigasi kesehatan akibat karhutla, kami telah memobilisasi sejumlah 314 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog dengan konsentrasi utama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan,” ujar Agus dalam keterangan resminya, Jumat (21/8/2026).
Selain personel, Kemenkes memperkuat penanganan di lapangan dengan mengirimkan berbagai kebutuhan medis dan logistik kesehatan. Bantuan tersebut mencakup 278.940 lembar masker, 56 unit Oxygen Concentrator (OC), pelindung wajah, 1.000 pasang sarung tangan medis, 36 tabung Oxycan, serta delapan set alat pelindung diri (APD).
Bantuan juga meliputi 33 dus Pemberian Makanan Tambahan (PMT), obat-obatan, dan vitamin. Distribusi tersebut ditujukan untuk mendukung pelayanan kesehatan di tengah kondisi udara yang terdampak asap karhutla.
Untuk mempercepat pelayanan bagi masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan, posko kesehatan dan rumah oksigen darurat turut disiapkan di sejumlah wilayah rawan. Fasilitas tersebut antara lain berada di Kabupaten Barito Utara, Barito Timur, dan Kota Palangkaraya.
Sementara itu, di Kalimantan Barat, Kemenkes mengoptimalkan program “Oase Udara” di sejumlah fasilitas kesehatan. Program tersebut diarahkan untuk memastikan ketersediaan oksigen bagi pasien yang membutuhkan penanganan.
Kemenkes memperkirakan risiko paparan asap masih perlu diwaspadai karena puncak musim kemarau diprakirakan berlangsung hingga September 2026. Kondisi tersebut membuat masyarakat di wilayah terdampak diminta meningkatkan perlindungan terhadap kesehatan, terutama mereka yang berada di kawasan dengan paparan asap tinggi.
Masyarakat diimbau menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah dan mengurangi kegiatan di ruang terbuka. Pemantauan indeks kualitas udara (IKU) juga dianjurkan dilakukan secara berkala melalui aplikasi digital.
Selain perlindungan dari paparan asap, warga diminta memperbanyak konsumsi air putih dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Masyarakat yang mulai mengalami gejala gangguan saluran pernapasan juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.





