JAKARTA – Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk kembali memanas. Parlemen Iran telah menyuarakan dukungan terhadap rencana penutupan Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis yang mengangkut sekitar 20 persen minyak dunia.
Langkah ini merupakan reaksi atas serangan udara Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir Iran akhir pekan lalu, memicu konflik Iran-Israel semakin memanas.
Bila keputusan ini disahkan oleh Pemimpin Tertinggi Iran, dampaknya diyakini akan menjalar ke pasar energi internasional, termasuk Amerika.
Selat Hormuz, yang membentang antara Teluk Persia dan Laut Arab, dikenal sebagai titik vital perdagangan energi dunia.
Jalur ini hanya selebar sekitar 21 mil di titik tersempitnya, namun menyokong hampir seperlima dari konsumsi minyak global.
Saat dunia tengah menanti respons lanjutan Iran pasca serangan ke Isfahan, Natanz, dan Fordow, usulan penutupan selat tersebut kini menjadi sorotan utama.
Menurut catatan Badan Informasi Energi AS (EIA), lebih dari 23 juta barel minyak mentah dan produk turunannya melewati jalur ini setiap hari.
Dari jumlah tersebut, sekitar dua juta barel per hari berakhir di pasar Amerika Serikat. Ketergantungan yang besar terhadap jalur tunggal ini membuat Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling rentan dalam perdagangan energi dunia.
Lonjakan Harga Minyak Sudah Terlihat
Sebelum konflik memuncak, harga minyak Brent telah menunjukkan tren kenaikan. Dari $69 per barel pada 12 Juni, melonjak menjadi $74 sehari kemudian.
Setelah serangan udara, harga kembali naik signifikan hingga menyentuh $80 pada Minggu malam, berdasarkan laporan Financial Times.
Para analis memprediksi bahwa jika penutupan benar terjadi, harga minyak dunia bisa melonjak antara 30 hingga 50 persen, bahkan bisa menembus angka $100 per barel dalam waktu singkat.
“Harga minyak kemungkinan akan berlipat ganda, jauh di atas $100. Seberapa lama guncangan harga ini dapat bertahan tidak jelas,” ujar Marko Papic, kepala strategi BCA Research.
Ia juga menekankan bahwa tekanan global terhadap Iran bisa membuat efek ini berlangsung singkat, meskipun dampaknya terhadap pasar bisa cukup luas.
“Hal ini bisa memengaruhi kepercayaan domestik, memengaruhi niat belanja modal oleh perusahaan, dan dengan demikian merembes ke dalam faktor psikologis yang memengaruhi tidak hanya pasar saham, tetapi juga pasar tenaga kerja,” ungkapnya seperti dikutip dari Newsweek, Senin (23/6/2025)
Kekhawatiran Terhadap Stabilitas Regional dan Pasokan Energi
Meski Iran bukan eksportir minyak utama melalui Selat Hormuz—peran ini lebih dominan dipegang Arab Saudi—pengaruh geopolitik Teheran di kawasan tidak bisa dipandang sebelah mata.
Para pengamat menyatakan bahwa setiap upaya Iran untuk memblokir akses Selat bisa memunculkan ketegangan baru, memperparah krisis pasokan, dan memicu aksi spekulatif di pasar global.
Greg Kennedy, direktur Economic Conflict and Competition Research Group di King’s College London, menyatakan kepada Newsweek, “Ketidakjelasan tentang berapa lama kondisi ini akan berlangsung juga akan menyebabkan penimbunan atau pembelian preemptif oleh negara lain, sehingga ada ketakutan akan persaingan pasokan yang akan mendorong kenaikan harga.”
Meski Iran selama beberapa dekade terakhir enggan menutup Selat Hormuz—bahkan saat konflik berdarah dengan Irak pada 1980-an—situasi saat ini dinilai berbeda.
Dengan meningkatnya tekanan internasional dan eskalasi militer, keputusan strategis untuk menutup selat tersebut kini tampak lebih realistis dibanding sebelumnya.
Dampak Langsung Bagi Amerika Serikat
Amerika Serikat mungkin bukan target utama dalam penyebaran minyak dari kawasan ini, namun dua juta barel per hari yang masuk ke pasar domestik cukup untuk membuat ekonomi AS terdampak secara langsung.
Harga bahan bakar yang naik tajam, spekulasi di pasar saham, hingga penurunan daya beli masyarakat menjadi ancaman nyata jika konflik terus bereskalasi.
Penutupan Selat Hormuz akan menguji daya tahan sistem distribusi energi global. Ketergantungan terhadap jalur sempit di tengah konflik bersenjata menunjukkan betapa rentannya sistem ini.
Dengan opsi rute alternatif yang terbatas, komunitas internasional kini memantau dengan waspada setiap langkah politik dan militer Iran berikutnya.***