JAKARTA – Kisah Cristiano Ronaldo di Juventus musim 2018-2021 kembali mencuat setelah pengakuan mengejutkan dari eksekutif sepak bola asal Italia, Fabio Paratici.
Fabio menilai kehadiran sang megabintang justru menciptakan dinamika tak terduga di dalam tim.
Didatangkan dari Real Madrid dengan status pemain kelas dunia, Ronaldo langsung menjadi pusat kekuatan lini depan Juventus dengan kontribusi gol yang luar biasa konsisten sejak musim pertamanya.
Namun di balik produktivitas tinggi tersebut, Paratici mengungkap bahwa dominasi Ronaldo dalam mencetak gol secara tidak langsung membuat rekan-rekannya kehilangan peran kolektif yang sebelumnya menjadi kekuatan utama tim.
“Cristiano mencetak satu gol per pertandingan dan itu justru membuat segalanya terasa terlalu mudah bagi tim yang sudah terbiasa menang,” ujar Paratici dikutip dari World Soccer Talk, Jumat.
Pada musim debutnya di Turin, Ronaldo tampil impresif dengan mencatatkan 28 gol dan 14 assist dari 48 pertandingan, sekaligus menegaskan statusnya sebagai pemain paling berpengaruh di skuad.
Performa tersebut bahkan meningkat dalam dua musim berikutnya, di mana ia mampu menembus lebih dari 35 gol per musim, menjadikannya mesin gol utama tanpa tandingan di dalam tim.
Meski demikian, ambisi besar Juventus untuk menjuarai Liga Champions tak kunjung terwujud, bahkan berujung pada serangkaian kegagalan yang mengecewakan.
Menurut Paratici, situasi ini bukanlah kritik terhadap Ronaldo, melainkan cerminan melemahnya kerja sama tim yang terlalu bergantung pada satu sosok.
Alih-alih bermain sebagai unit solid seperti sebelumnya, Juventus perlahan berubah menjadi tim yang menyerahkan hampir seluruh tanggung jawab ofensif kepada Ronaldo.
Selama membela Juventus, Ronaldo mencatatkan 101 gol dan 28 assist dari 134 pertandingan, sebuah statistik luar biasa yang menunjukkan kualitasnya tetap berada di level elite dunia.
Namun di sisi lain, lini tengah dan pertahanan Juventus dinilai tidak mampu mengimbangi performa sang bintang, sehingga permainan tim kehilangan keseimbangan.
Ronaldo memang mampu menjamin produktivitas gol, tetapi ia tidak bisa sendirian mengatasi kelemahan struktural tim secara keseluruhan.
Berbeda dengan masa kejayaannya di Real Madrid, di mana ia didukung skuad yang solid, di Juventus ia justru menjadi pusat dari tim yang mulai kehilangan arah permainan kolektif.
Kondisi ini diperparah oleh kebijakan klub yang lebih fokus mempertahankan Ronaldo dibanding melakukan regenerasi skuad secara menyeluruh.
Akibatnya, Juventus mengalami penurunan performa secara bertahap, sekaligus menyia-nyiakan potensi maksimal yang seharusnya bisa diraih bersama salah satu pemain terbaik dunia tersebut.***