Kisah Nina Saleha (27) terasa seperti skenario film horor bagi setiap orang tua. Bayangkan, hanya ditinggal makan sebentar, inkubator bayi Anda sudah kosong dan buah hati Anda sudah berada di pelukan orang asing. Tragedi yang nyaris mengubah hidup sebuah keluarga ini terjadi di RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung pada Rabu (8/4/2026).
Empat hari merawat bayinya yang terkena penyakit kuning di ruang NICU RSHS Bandung, Nina Saleha (27) tidak pernah menyangka akan pulang dengan trauma mendalam. Bukannya sambutan hangat saat administrasi rampung, ia justru harus berebut darah dagingnya sendiri dari tangan pasangan suami istri lain yang tak ia kenal.
Firasat yang Menyelamatkan Kehidupan
Kejadian bermula saat Nina dan suaminya keluar sejenak untuk makan karena proses administrasi kepulangan yang tak kunjung selesai. Di tengah suapan, Nina merasa ada yang tidak beres. Ia berlari kembali ke ruang perawatan, hanya untuk menemukan inkubator bayinya telah kosong melompong.
“Pas ke sana, anak saya sudah ada yang pegang. Saya lihat warna selimut biru, kok anak saya enggak ada di inkubator? Langsung saya tarik ibunya (orang asing tersebut),” kenang Nina dengan suara bergetar. Beruntung, insting ibu tak meleset—pakaian dan selimut biru itu adalah milik bayinya.
Alasan “Dipanggil Tak Menjawab” yang Janggal
Alih-alih mendapatkan penjelasan yang masuk akal, Nina justru dibuat geram oleh jawaban perawat. Sang perawat berdalih telah memanggil nama Nina berkali-kali namun tidak ada jawaban, sehingga bayi tersebut langsung diberikan kepada orang lain yang juga tengah mengurus kepulangan.
“Alasannya karena saya dipanggil berkali-kali enggak datang, akhirnya dikasihkan ke orang lain,” tutur Nina. Ironisnya, saat Nina berteriak histeris menyadari bayinya nyaris raib, petugas medis justru memintanya untuk diam.
Miris, Satpam Malah “Bajak” HP Pasien demi Rating
Kekecewaan Nina memuncak ketika ia diarahkan ke petugas keamanan. Bukannya mendapatkan perlindungan atau mediasi, seorang oknum satpam justru meminjam telepon genggam Nina.
“Saya diminta kasih rating, saya kasih bintang empat. Tapi satpamnya malah pinjam ponsel saya dan diubah jadi bintang lima dengan kata-kata pujian,” ungkap Nina kecewa. Hal ini menunjukkan adanya upaya menutup-nutupi buruknya layanan dengan manipulasi testimoni digital.
Dinkes Jabar Siapkan Audit Investigasi
Manajemen RSHS telah melayangkan permohonan maaf tertulis dan berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh. Namun, Dinas Kesehatan Jawa Barat tidak ingin tinggal diam. Kepala Dinkes Jabar, dr. R. Vini Adiani Dewi, menegaskan akan segera mengaudit SOP di ruang NICU dan KIA RSHS.
“Semua ada SOP-nya, termasuk prosedur menyerahkan bayi kepada orang tua. Itu yang akan kami kroscek kembali,” tegas Vini.