CARACAS, VENEZUELA – Jumlah korban tewas akibat dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang Venezuela terus meningkat. Hingga Selasa (30/6/2026), pemerintah melaporkan sebanyak 1.943 orang meninggal dunia, sementara 10.571 orang mengalami luka-luka. Di saat yang sama, ribuan warga lainnya diduga masih tertimbun reruntuhan bangunan sehingga angka korban diperkirakan masih akan terus bertambah.
Pembaruan data tersebut disampaikan Ketua Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez, dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah. Ia menegaskan operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di sejumlah wilayah yang mengalami kerusakan paling parah.
“Jumlah korban meninggal dunia saat ini mencapai 1.943 orang, sementara total korban luka sebanyak 10.571 orang,” kata Jorge Rodriguez, Selasa (30/6/2026).
Selain korban jiwa dan korban luka, tim penyelamat juga berhasil mengevakuasi ribuan warga dari bawah reruntuhan sejak operasi tanggap darurat dimulai.
“Tim penyelamat telah menyelamatkan 6.461 orang di Venezuela sejak pekan lalu,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah memperingatkan bahwa jumlah korban sesungguhnya kemungkinan jauh lebih besar. Sejumlah warga diperkirakan masih belum terdata karena berhasil menyelamatkan diri secara mandiri, dievakuasi keluarga, atau masih tertimbun di bawah puing-puing bangunan yang belum berhasil dijangkau tim penyelamat.
Rodriguez menyebut total korban terdampak diperkirakan dapat mendekati **20.000 orang**, terutama apabila memperhitungkan ribuan warga yang hingga kini masih belum ditemukan.
“Angka sebenarnya kemungkinan mendekati 20.000 orang jika memperhitungkan ribuan orang yang masih terkubur di bawah reruntuhan di negara bagian La Guaira, termasuk mereka yang mampu keluar sendiri atau dibantu teman dan keluarga,” ungkapnya.
La Guaira Menjadi Episentrum Krisis Kemanusiaan
Negara bagian La Guaira menjadi wilayah yang mengalami dampak paling parah akibat dua gempa besar tersebut. Ribuan rumah roboh atau mengalami kerusakan berat, sementara sejumlah fasilitas publik, rumah sakit, sekolah, hingga infrastruktur vital turut terdampak.
Kerusakan jalan dan jembatan menghambat distribusi bantuan kemanusiaan ke sejumlah daerah terpencil. Kondisi ini memaksa tim penyelamat menggunakan kombinasi alat berat dan pencarian manual untuk menemukan korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan.
Operasi penyelamatan dilakukan tanpa henti dengan melibatkan personel tanggap darurat, aparat keamanan, relawan, serta dukungan berbagai lembaga pemerintah. Fokus utama saat ini adalah menemukan korban yang masih memiliki peluang untuk diselamatkan sekaligus mengevakuasi jenazah dari lokasi-lokasi yang belum tersentuh.
Pemerintah Venezuela juga terus mengoordinasikan penyaluran bantuan darurat berupa makanan, air bersih, obat-obatan, serta tempat penampungan sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Upaya pemulihan layanan listrik, komunikasi, dan pasokan air bersih juga terus dipercepat agar aktivitas kemanusiaan dapat berjalan lebih efektif.
Dua Gempa Berkekuatan Besar Picu Kerusakan Masif
Berdasarkan data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), Venezuela diguncang dua gempa bumi berkekuatan besar pada 24 Juni 2026. Gempa pertama berkekuatan magnitudo 7,2, disusul gempa kedua bermagnitudo 7,5 yang terjadi dalam rentang waktu berdekatan.
Dua guncangan kuat tersebut menyebabkan ribuan bangunan runtuh, memicu kerusakan luas pada kawasan permukiman, fasilitas umum, serta jaringan transportasi di berbagai wilayah.
Sementara itu, analisis awal dari para peneliti NASA memperkirakan sekitar **58.870 bangunan** mengalami kerusakan hingga hancur akibat bencana tersebut. Besarnya jumlah bangunan yang terdampak menggambarkan skala kehancuran yang harus dihadapi Venezuela dalam proses pemulihan pascabencana.
Dengan operasi pencarian yang masih berlangsung, otoritas memperingatkan bahwa jumlah korban tewas maupun korban terdampak diperkirakan masih akan terus meningkat. Penambahan angka korban sangat mungkin terjadi seiring tim penyelamat berhasil menjangkau wilayah-wilayah yang sebelumnya terisolasi akibat rusaknya infrastruktur dan tertutup material reruntuhan.