JAKARTA – Kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia menghasilkan penguatan lima pilar kerja sama strategis yang mencakup pertahanan dan keamanan, perdagangan serta investasi, ketahanan pangan dan energi, hilirisasi industri, serta pengembangan sumber daya manusia. Dari seluruh agenda tersebut, penjajakan pengadaan rudal jelajah supersonik BrahMos beserta alih teknologi menjadi salah satu hasil yang paling menyita perhatian.
Pertemuan bilateral Indonesia dan India mempertegas komitmen kedua negara untuk memperluas kemitraan strategis di berbagai sektor. Selain mendorong peningkatan kerja sama ekonomi, kedua negara juga sepakat memperdalam kolaborasi di bidang pertahanan yang dinilai penting bagi stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati (Nuning) mengatakan hasil pertemuan kedua pemimpin mencerminkan semakin eratnya hubungan strategis Indonesia dan India.
“Dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto ini menghasilkan berbagai kesepakatan penting lintas sektor,” kata Susaningtyas, Selasa (7/7/2026).
Menurut Nuning, kemitraan Indonesia dan India kini bertumpu pada lima pilar utama, yakni pertahanan dan keamanan, perdagangan serta investasi, ketahanan pangan dan energi, hilirisasi industri, serta pengembangan sumber daya manusia. Kelima sektor tersebut saling melengkapi untuk memperkuat ketahanan nasional sekaligus meningkatkan peran kedua negara sebagai mitra strategis di kawasan Indo-Pasifik.
Di sektor pertahanan, kedua negara sepakat memperkuat kerja sama maritim melalui peningkatan keamanan kawasan, pengembangan industri pertahanan, serta kolaborasi teknologi persenjataan. Nuning menilai Indonesia dan India memiliki kepentingan bersama menjaga keamanan jalur pelayaran internasional yang menjadi jalur utama perdagangan global.
Salah satu bentuk konkret kerja sama tersebut adalah penjajakan pengadaan sistem rudal jelajah supersonik BrahMos.
“Indonesia menjalin kerja sama pertahanan dengan BrahMos Aerospace untuk pengadaan sistem rudal jelajah supersonik BrahMos guna memperkuat kemampuan pertahanan pantai (coastal defense) nasional. Kesepakatan bernilai sekitar US$630 juta ini mencakup akuisisi rudal, infrastruktur pendukung, pelatihan operator, dan transfer teknologi,” ujarnya.
Selain pengadaan rudal, kerja sama tersebut juga mencakup pembangunan fasilitas pendukung, pelatihan personel, dukungan logistik, pemeliharaan jangka panjang, serta transfer teknologi. Bagi Indonesia, skema itu dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat sistem pertahanan pantai melalui integrasi rudal anti-kapal berbasis darat sekaligus meningkatkan kemampuan industri pertahanan nasional.
Menurut Nuning, keberhasilan kerja sama pertahanan semacam itu sangat bergantung pada tingkat kepercayaan antarkedua negara, terutama dalam pelaksanaan alih teknologi.
“Alih teknologi ini sering sulit dilaksanakan bila tidak ada saling percaya antarpihak yang bekerja sama, sehingga memunculkan ketidakterbukaan yang mengakibatkan gagalnya kerja sama yang produktif,” tegasnya.
Ia menilai komitmen India dalam menyediakan pelatihan operator, dukungan teknis, pembangunan fasilitas, dan pemeliharaan jangka panjang menunjukkan adanya kepercayaan strategis yang menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan kemitraan pertahanan kedua negara. Skema tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat kemandirian industri pertahanan Indonesia dalam penguasaan teknologi persenjataan modern.
Selain memperkuat sektor pertahanan, Indonesia dan India juga sepakat meningkatkan kerja sama di bidang perdagangan dan investasi, ketahanan pangan dan energi, hilirisasi industri, serta pengembangan sumber daya manusia. Keseluruhan agenda tersebut diharapkan menjadi fondasi baru bagi hubungan bilateral yang semakin komprehensif dan saling menguntungkan di tengah dinamika kawasan Indo-Pasifik.