Angka yang fantastis sekaligus miris. Sekitar 60 ribu kuota calon mahasiswa baru (camaba) di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dipastikan hangus karena mereka memilih tidak melakukan daftar ulang. Fenomena ini mencakup akumulasi seluruh jalur masuk, mulai dari jalur prestasi (SNBP), tes (SNBT), hingga jalur Mandiri.
Ketua Umum Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026, Eduart Wolok, meluruskan bahwa angka tersebut merupakan total kuota kosong yang tidak terisi. Lantas, apa yang membuat puluhan ribu calon mahasiswa ini rela melepas kesempatan emas kuliah di kampus negeri?
Berikut adalah 3 akar masalah utamanya:
1. Terbentur Biaya UKT dan Gagal KIP-Kuliah
Faktor finansial masih menjadi ganjalan terbesar. Banyak calon mahasiswa yang dinyatakan lolos lewat jalur KIP-Kuliah (KIP-K) namun setelah diverifikasi ternyata dinilai tidak memenuhi syarat (not eligible). Akibatnya, mereka dibebankan tarif Uang Kuliah Tunggal (UKT) reguler yang di luar jangkauan kemampuan orang tua.
Sebenarnya PTN tidak tinggal diam. Pihak kampus biasanya membuka ruang sanggah untuk memberikan keringanan, menurunkan kelompok UKT, hingga mencarikan alternatif beasiswa lain. Namun bagi sebagian mahasiswa, proses ini tetap sulit membendung beban biaya yang telanjur tinggi.
2. Lolos Lintas Pulau: Biaya Hidup Meroket
Masalah lain muncul ketika camaba diterima di kampus yang lokasinya sangat jauh dari daerah asal (lintas pulau).
Contohnya seorang siswa asal Sumatera berhasil lolos di PTN Gorontalo. Ketika ia dinyatakan tidak lolos pendanaan KIP-Kuliah, biaya mobilitas perpindahan pulau dan biaya hidup bulanan menjadi tanggungan mandiri yang sangat berat.
Banyak dari mereka yang akhirnya memilih melepas kursi tersebut dan berputar arah mendaftar di perguruan tinggi lokal yang masih berada di dalam satu pulau.
3. Demi Mengejar “Prodi Impian” via Jalur Mandiri
Alasan terakhir ini berkaitan dengan idealisme jurusan. Pada sistem UTBK-SNBT, peserta diperbolehkan memilih hingga empat pilihan.
Banyak kasus di mana peserta ternyata diterima di pilihan kedua, ketiga, atau keempat yang bukan merupakan prioritas utama mereka. Karena gengsi atau merasa tidak cocok dengan jurusannya, mereka memilih mengabaikan hasil tersebut dan bertaruh kembali lewat Jalur Mandiri demi mengincar program studi impian nomor satu mereka.
Data Resmi Masih Bergerak
Ketua SNPMB yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG) ini menegaskan bahwa angka pasti mengenai berapa banyak mahasiswa yang murni mengundurkan diri masih terus didata.
“Saat ini kan masih proses berjalan di jalur Mandiri. Jadi kami belum bisa menyimpulkan finalnya. Nanti kalau sudah ada data resminya, pasti akan kami rilis ke publik,” pungkas Eduart saat ditemui di Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu (27/6/2026).