JAKARTA — PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mulai mengoptimalkan aset lahannya untuk menghadirkan hunian layak dan terjangkau di kawasan perkotaan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari dukungan BUMN terhadap Program 3 Juta Rumah Rakyat yang ditetapkan pemerintah sebagai salah satu agenda prioritas.
Pengembangan hunian di atas aset KAI diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah yang membutuhkan tempat tinggal dengan akses transportasi publik.
“Momentum ini merupakan penegasan bahwa aset perkeretaapian yang strategis dapat dioptimalkan secara bertanggung jawab untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, dengan tetap menempatkan keselamatan dan kelancaran layanan kereta api sebagai prioritas utama,” ujar Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin.
Pernyataan tersebut disampaikan Bobby dalam acara Groundbreaking Hunian Manggarai untuk mendukung Program 3 Juta Rumah pada Jumat (21/8).
Menurut Bobby, pemanfaatan aset KAI tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memperluas akses masyarakat terhadap hunian yang layak, terjangkau, dan berkelanjutan.
“Program 3 Juta Rumah Rakyat merupakan salah satu prioritas Pemerintah Republik Indonesia,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, KAI menetapkan tiga prinsip utama agar pembangunan hunian tidak hanya berorientasi pada jumlah unit.

Prinsip pertama ialah kelayakan yang mencakup keselamatan, kualitas bangunan, kenyamanan, serta fungsi hunian sebagai tempat tinggal.
Aspek kedua adalah keterjangkauan dengan menyesuaikan pembangunan terhadap kebijakan dan skema pemerintah bagi kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program.
Sementara prinsip ketiga berupa keberlanjutan yang menekankan efisiensi penggunaan lahan dan keterhubungan hunian dengan jaringan transportasi massal.
Konsep berkelanjutan juga mencakup kepatuhan terhadap aturan lingkungan serta pengelolaan kawasan agar manfaatnya dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Implementasi program tersebut kini dimulai melalui groundbreaking hunian terjangkau di kawasan Manggarai, Jakarta.
Proyek hunian ini mencakup tiga blok, yakni Blok G, Blok H, dan Blok F, dengan total area pembangunan sekitar 2,2 hektare.
Lokasi Manggarai dinilai strategis karena berada di kawasan perkotaan yang memiliki konektivitas transportasi publik dan aktivitas masyarakat yang tinggi.
Bobby berharap pembangunan tersebut menjadi langkah awal untuk memperluas penyediaan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah di tengah kota.
“Semoga groundbreaking ini menjadi momentum bagi kita untuk memulai pengerjaan fisik hunian yang layak dan terjangkau, khususnya hunian di tengah kota bagi masyarakat berpenghasilan rendah, sesuai dengan peraturan menteri yang telah dikeluarkan oleh Kementerian PKP,” pungkas Bobby.
Pemanfaatan aset strategis BUMN seperti lahan KAI berpotensi menjadi salah satu pendekatan untuk menyediakan hunian yang lebih dekat dengan pusat aktivitas dan transportasi.
Program ini sekaligus menunjukkan upaya menggabungkan fungsi aset negara dengan kebutuhan perumahan masyarakat secara produktif dan berkelanjutan.***





