JENEWA – Komisi Penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa menyimpulkan bahwa Israel telah melakukan genosida di Gaza, dengan tuduhan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan pejabat tinggi lainnya menghasut tindakan tersebut. Laporan ini menuai kecaman keras dari Israel, yang menyebutnya “skandalus” dan “palsu“.
Dilansir dari Reuters, laporan PBB menyebutkan bukti-bukti seperti pembunuhan massal, penghalangan bantuan kemanusiaan, pengusiran paksa, dan penghancuran klinik kesuburan sebagai dasar temuan genosida. “Genosida sedang terjadi di Gaza,” kata Navi Pillay, mantan hakim Pengadilan Kriminal Internasional yang memimpin komisi tersebut. Ia menegaskan bahwa otoritas Israel di tingkat tertinggi telah mengatur kampanye genosida selama hampir dua tahun dengan niat menghancurkan kelompok Palestina di Gaza.
Israel, melalui duta besarnya di Jenewa, Daniel Meron, menolak laporan tersebut sebagai “omong kosong fitnah” dan menuduh komisi bertindak sebagai “proxy Hamas”. Israel juga menolak bekerja sama dengan komisi, yang dianggap memiliki agenda politik.
Laporan setebal 72 halaman ini merupakan temuan PBB paling tegas terkait isu tersebut, meskipun komisi ini bersifat independen dan tidak mewakili suara resmi PBB. Tekanan meningkat agar PBB secara resmi menggunakan istilah genosida. Sementara itu, Israel sedang menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag, dengan alasan membela diri pasca-serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 orang.
Perang di Gaza telah menewaskan lebih dari 64.000 orang menurut Kementerian Kesehatan Gaza, dengan sebagian wilayah dilaporkan mengalami kelaparan. Komisi PBB juga menyoroti pernyataan Netanyahu dan pejabat lain, seperti Presiden Isaac Herzog, sebagai bukti niat genosida, termasuk surat Netanyahu yang membandingkan operasi Gaza dengan “perang suci pemusnahan total” dalam Alkitab Ibrani.
Pillay, yang pernah memimpin pengadilan PBB untuk genosida Rwanda, membandingkan situasi di Gaza dengan Rwanda tahun 1994, di mana dehumanisasi menjadi pemicu pembunuhan massal. Laporan ini diharapkan membuka diskusi lebih luas di kalangan negara-negara.