Prancis tengah menghadapi salah satu krisis iklim paling mematikan dalam sejarah modernnya. Negara mode ini baru saja melewati malam dengan suhu terpanas sejak pencatatan cuaca pertama kali dilakukan pada tahun 1947 silam.
Suhu ekstrem yang membakar seisi negeri dari Senin (22/6) hingga Selasa (23/6) waktu setempat ini telah melumpuhkan aktivitas publik. Tidak hanya memaksa penutupan sekolah-sekolah dan membatalkan berbagai jadwal keberangkatan kereta api, gelombang panas ini juga memicu petaka kemanusiaan: sedikitnya 40 orang dilaporkan tewas tenggelam sejak 18 Juni lalu.
Merespons situasi kritis ini, Perdana Menteri Prancis, Sebastien Lecornu, langsung menggelar rapat darurat bersama jajaran kabinetnya.
Niat Mendinginkan Badan Berujung Petaka
Tingginya angka korban tenggelam dipicu oleh kepanikan warga, terutama generasi muda, yang berbondong-bondong mencari sumber air demi mendinginkan tubuh dari sengatan suhu yang menyiksa.
Menteri Olahraga dan Pemuda Prancis, Marina Ferrari, membeberkan fakta bahwa sedikitnya 20 orang dari total korban tewas justru mengembuskan napas terakhir sejak awal akhir pekan kemarin.
Pemerintah kini memperketat pengawasan di area publik dan meminta warga untuk tidak nekat berenang di lokasi-lokasi berbahaya yang tidak memiliki petugas penyelamat.
Memecahkan Rekor Suhu Terpanas Sejak 1947
Berdasarkan laporan resmi dari badan cuaca nasional Meteo-France, indikator suhu nasional—yang merupakan rata-rata pembacaan dari 30 stasiun cuaca di seluruh Prancis—menyentuh angka 21,6 derajat Celsius pada Selasa (23/6) pagi.
Angka ini resmi menumbangkan rekor malam terpanas sebelumnya yang berada di angka 21,4 derajat Celsius pada 25 Juli 2019 silam. Mengingat suhu rata-rata malam hari di Eropa biasanya jauh lebih sejuk, lonjakan ini menjadi alarm bahaya bagi fasilitas publik dan kesehatan masyarakat Prancis.