JAKARTA – Insiden ledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta pada Jumat (7/11/2025) mengungkap sisi gelap dari dampak bullying, yang ternyata dapat memicu masalah kesehatan mental serius bagi korban. Berdasarkan informasi yang beredar, terduga pelaku bom SMAN 72 adalah seorang siswa kelas 12 yang diketahui telah lama menjadi korban perundungan dan mengalami tekanan mental yang berat.
Salah seorang siswa SMAN 72 mengonfirmasi, “Iya benar. Dia (terduga pelaku) tuh kayak nggak kuat mentalnya.” Pernyataan ini membuka mata banyak pihak tentang seberapa besar dampak negatif bullying terhadap kesejahteraan psikologis individu, yang bisa berujung pada tindakan ekstrem.
Menurut laman National Library of Medicine, bullying tidak hanya menyakiti korban secara emosional, tetapi juga memengaruhi perkembangan otak remaja dan cara mereka merespons stres. Dampak-dampak psikologis yang umum dialami oleh korban bullying antara lain:
- Rasa tidak aman, cemas, dan menarik diri: Korban bullying sering merasa terisolasi, tidak berharga, dan cemas. Mereka cenderung menarik diri dari pergaulan sosial, yang memperburuk kondisi psikologis mereka.
- Depresi: Dalam jangka panjang, bullying dapat menyebabkan gangguan regulasi emosi yang memicu depresi serta gangguan kecemasan yang kronis.
- Gangguan Stres Pasca-Trauma (PTSD): Dalam beberapa kasus ekstrem, pengalaman perundungan dapat meninggalkan bekas traumatis yang sulit dilupakan, mempengaruhi kehidupan korban dalam waktu lama.
- Perubahan fungsi dan struktur otak: Penelitian fMRI (functional MRI) menunjukkan bahwa bullying dapat mengubah fungsi otak, terutama di area yang mengatur emosi, memori, dan perilaku.
- Perilaku agresif dan kekerasan: Korban bullying dapat menunjukkan perilaku agresif sebagai bentuk pelampiasan terhadap rasa frustasi dan kemarahan yang mereka alami. Perasaan tidak berdaya dapat memunculkan ledakan emosi dan perilaku kekerasan.
Dalam kasus insiden ledakan di SMAN 72, beberapa ciri yang disebutkan pada terduga pelaku mengindikasikan bahwa terduga pelaku mengalami kondisi mental yang buruk. Terduga pelaku dikenal sebagai pribadi yang tertutup, sering menarik diri dari lingkungan sosial, dan menunjukkan minat pada tontonan atau video yang bertemakan kekerasan, ekstremisme, bahkan terorisme. Hal ini menunjukkan bahwa dampak bullying, jika tidak ditangani dengan baik, dapat berlanjut pada perilaku destruktif yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Insiden ini harus menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat, terutama lingkungan sekolah dan keluarga, tentang pentingnya menciptakan ruang yang aman dan penuh empati. Tindakan perundungan yang dibiarkan tanpa penanganan yang tepat dapat berujung pada dampak yang jauh lebih serius. Oleh karena itu, sudah saatnya kita bersama-sama bergerak untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari kekerasan, di mana setiap anak dapat tumbuh dengan sehat, percaya diri, dan bahagia.