JAWA TIMUR – Kasus leptospirosis kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah Jawa Timur.
Penyakit yang dikenal masyarakat sebagai “kencing tikus” ini menunjukkan tren peningkatan, terutama di Kabupaten Pacitan dan Magetan.
Dinas kesehatan setempat pun mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, mengingat penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius bahkan berujung kematian jika tidak ditangani dengan cepat.
Di Kabupaten Pacitan, jumlah kasus leptospirosis tercatat cukup tinggi sejak awal tahun 2026.
Dinas Kesehatan setempat mencatat setidaknya 133 kasus terjadi dalam rentang Januari hingga April.
Meski angka ini disebut lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, peningkatan kasus tetap menjadi perhatian serius karena potensi penyebarannya yang cepat di lingkungan tertentu.
Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena sebagian besar kasus terjadi pada masyarakat yang beraktivitas di lingkungan berisiko tinggi, seperti petani atau warga yang sering bersentuhan dengan air dan tanah.
Minimnya penggunaan alat pelindung diri (APD) saat bekerja di sawah atau membersihkan saluran air menjadi salah satu faktor utama penyebab penularan.
Sementara itu, di Kabupaten Magetan, leptospirosis dilaporkan kembali muncul setelah hampir satu dekade tidak ditemukan.
Dalam dua bulan terakhir, terdapat dua kasus yang melibatkan warga setempat, dengan satu di antaranya meninggal dunia.
Hal ini menunjukkan bahwa penyakit tersebut masih menjadi ancaman nyata, meskipun sebelumnya sempat tidak terdeteksi.
Leptospirosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira.
Bakteri ini biasanya menyebar melalui urine hewan yang terinfeksi, terutama tikus.
Penularan dapat terjadi ketika manusia bersentuhan dengan air, tanah, atau makanan yang telah terkontaminasi, terutama jika terdapat luka terbuka pada tubuh.
Tidak hanya tikus, beberapa hewan lain seperti sapi, kambing, dan anjing juga dapat menjadi sumber penularan jika membawa bakteri tersebut.
Oleh karena itu, lingkungan yang kurang bersih dan pengelolaan sampah yang buruk menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko penyebaran penyakit ini.
Gejala leptospirosis sering kali menyerupai penyakit umum, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, hingga mual dan muntah.
Namun, pada kasus yang lebih parah, penyakit ini dapat menyebabkan gangguan pada organ vital seperti ginjal dan hati.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala tersebut, terutama setelah beraktivitas di lingkungan berisiko.
Peningkatan kasus di Pacitan juga memicu kekhawatiran akan potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) jika tidak segera ditangani secara serius.
Sejumlah pihak menekankan pentingnya langkah cepat dan terpadu, mulai dari deteksi dini, pelacakan kasus, hingga edukasi masyarakat secara menyeluruh.
Upaya pencegahan menjadi kunci utama dalam menekan penyebaran leptospirosis.
Dinas kesehatan di berbagai daerah telah mengintensifkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Pengendalian populasi tikus juga menjadi fokus utama, mengingat hewan ini merupakan sumber utama penularan bakteri.
Selain itu, masyarakat dianjurkan untuk selalu menggunakan alat pelindung diri saat beraktivitas di area berisiko, seperti sawah atau tempat dengan genangan air.
Menghindari kontak langsung dengan air yang berpotensi tercemar, serta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar juga menjadi langkah penting yang tidak boleh diabaikan.
Perbaikan sistem sanitasi, pengelolaan sampah yang baik, serta perbaikan drainase juga menjadi bagian dari upaya pencegahan jangka panjang.
Tanpa dukungan lingkungan yang sehat, risiko penyebaran leptospirosis akan terus meningkat, terutama di daerah yang memiliki kondisi geografis rentan.
Keterlibatan berbagai pihak juga sangat diperlukan dalam menangani masalah ini.
Tidak hanya pemerintah dan tenaga kesehatan, tetapi juga masyarakat harus berperan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dan meningkatkan kesadaran akan bahaya leptospirosis.
Dengan meningkatnya kasus di beberapa wilayah Jawa Timur, kewaspadaan menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi.
Penyakit ini mungkin terlihat sederhana di awal, tetapi dapat berkembang menjadi serius jika diabaikan.
Oleh karena itu, langkah pencegahan, deteksi dini, dan penanganan cepat menjadi kunci utama untuk menekan penyebaran leptospirosis di tengah masyarakat. (FB)