JATENG – Mahasiswa baru Undip asal Alor, NTT, Adriano Jeconia Padama (Dede), mengadukan mahalnya harga beras di kampung halamannya langsung kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Aduan itu langsung direspons dengan instruksi kepada Bulog untuk memperbaiki distribusi beras ke Alor.
Adriano tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip.
“Halo, saya Adriano Jekonia Padama, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Diponegoro. Saya sangat senang dan bangga karena saya bisa berkontribusi dalam kesejahteraan masyarakat di tempat saya lahir. Dan saya bisa memberikan sesuatu bagi negara dan juga bagi saudara-saudara saya di Kabupaten Alor,” ucap Dede dalam unggahan tersebut, dikutip Minggu (9/8/2026).
Ungkap Data Kelangkaan Beras di Alor
Di hadapan Mentan, Dede memaparkan kondisi nyata yang dihadapi warga Alor terkait ketersediaan beras. Ia menyebutkan bahwa kebutuhan beras di wilayahnya jauh dari cukup dibandingkan kemampuan produksi lokal.
“Masalahnya Pak, kebutuhan beras kami itu sekitar 24-27 ton per tahun. Sedangkan kemampuan kami cuma bisa 10%, sehingga harga beras sering naik dan mahal,” papar Dede.
Ia menjelaskan, satu-satunya jalur distribusi ke daerahnya hanya mengandalkan kapal laut. Persoalan semakin pelik ketika musim hujan tiba, sebab curah hujan yang tinggi kerap menghambat pengiriman logistik dari luar pulau.
Dede juga mengungkapkan dampak sosial yang ditimbulkan akibat minimnya pasokan beras. Menurutnya, banyak anak-anak di kampungnya terpaksa mengonsumsi umbi-umbian sebagai pengganti nasi, kondisi yang menurutnya berisiko bagi kesehatan pencernaan anak-anak tersebut.
“Yang saya khawatirkan adalah banyak anak kecil yang terpaksa makan umbi-umbian dan yang saya tahu adalah kalau mereka makan umbi-umbian dari kecil, maka perut mereka akan penuh dengan gas, sehingga akan membesar dan mohon maaf tapi, lubang pembuangan mereka akan mengecil. Itu benar-benar sangat menyakitkan, Pak,” ungkapnya.
Ia menambahkan, populasi di Alor mencapai sekitar 300 ribu jiwa. Di wilayah perkotaan, harga beras berkisar Rp13.000-Rp15.000 per kilogram, sementara di daerah pedalaman bisa mencapai Rp17.000-Rp18.000 dalam kondisi normal. Angka itu bahkan bisa melonjak drastis saat terjadi krisis pasokan.
“Tapi kalau saat krisis, yang di pedalaman itu bisa sampai Rp25 atau 30 ribu per kilo, Pak,” kata Dede.
Mentan Amran Telepon Bulog di Tempat
Menanggapi aduan tersebut, Mentan Andi Amran Sulaiman tak menunggu lama. Ia langsung menelepon jajaran terkait, termasuk Direktur Utama Perum Bulog, untuk mengambil langkah intervensi distribusi pangan ke Alor saat itu juga.
“Oke Nak, saya ini nanti dirut (Bulog) tadi, kalau tidak ada gudang, bangun gudang di sana, gudang Bulog. Kemudian hari ini minta Dirut, sudah Dirut kirim beras di sana dan Insya Allah di sana harganya cuma Rp12.500 ya. Merata sampai daerah, seluruh pulau kita penuhi,” ujar Amran, sebagaimana dikutip dari akun TikTok resmi Kementerian Pertanian.
Tidak berhenti di janji lisan, Mentan beserta rombongan belakangan diketahui benar-benar terbang langsung ke Alor untuk mengecek kondisi harga beras dan ketersediaan gudang penyimpanan di sana. Amran memuji sikap Dede yang dinilainya tulus memperjuangkan nasib masyarakat kecil tanpa motif pencitraan.
“Kami sudah tunaikan janji di Undip. Kami datang langsung ke Alor sesuai aspirasi Adriano. Ini luar biasa,” tegas Amran.
Ia juga menitipkan pesan khusus kepada pihak kampus agar sosok Dede terus dibina sebagai calon pemimpin masa depan. “Pak Rektor terima kasih, ini anak adalah pemimpin kita ke depan, dijaga dengan baik,” imbuhnya.
Undang Rektor Undip ke Kampung Halaman
Dalam kesempatan yang sama, Dede juga mengundang Rektor Undip, Prof Dr Suharnomo, SE, MSi, untuk berkunjung langsung ke kampung halamannya di Desa Adat Takpala, Alor. Ia menyebut desa tersebut masih menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan integritas masyarakat setempat.
“Jika Pak Rektor ingin datang ke Alor, Pak Rektor bisa datang ke sini. Ini adalah desa adat di Takpala. Saya sarankan Pak Rektor untuk datang ke sini karena di desa ini masih memegang nilai-nilai luhur. Di desa ini masih mempunyai integritas dan masih bermartabat. Jadi jika Pak Rektor mau, bisa datang ke sini. Atau kita bisa nanti ke pantai bareng-bareng Pak Rektor. Terima kasih,” tutur Dede.
Rektor Undip Suharnomo mengaku bangga terhadap keberanian Dede yang meski berstatus mahasiswa baru, sudah memiliki keberanian menyuarakan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat di daerah asalnya kepada pejabat negara.
Aksi Dede pun mendapat apresiasi luas di media sosial, banyak warganet yang menilai keberaniannya sebagai bentuk nyata kepedulian generasi muda terhadap persoalan pangan di daerah tertinggal, sekaligus menjadi bukti bahwa aspirasi yang disampaikan secara langsung dan berbasis data dapat direspons cepat oleh pemerintah.