Di mata penonton internasional, serial drama Korea Perfect Crown mungkin hanyalah sebuah kisah romansa fiksi berlatar kerajaan yang manis, lengkap dengan jajaran pemeran bertabur bintang dan akhir cerita yang membahagiakan. Namun, situasi sebaliknya terjadi di negeri asalnya, Korea Selatan. Sejak awal penayangan, gelombang protes tiada henti menerpa drama ini.
Ketegangan mencapai puncaknya pada episode 11, tepat sehari sebelum penayangan episode pamungkas. Adegan sakral saat karakter Pangeran Agung Ian (diperankan oleh Byeon Woo Seok) naik takhta memicu amarah kolektif masyarakat Korea, termasuk dari kalangan akademisi dan tokoh publik.
Kritik tajam ditujukan pada industri televisi Korea yang rela menggelontorkan dana fantastis hingga ratusan juta won demi membayar honor aktor, namun sangat pelit mengalokasikan anggaran untuk riset sejarah. Minimnya proses pengecekan fakta yang sistematis ini dinilai menjadi akar fatalnya kesalahan istilah, busana, hingga dialog yang terus berulang dalam industri sinema mereka.
Merespons boikot massal tersebut, sutradara, penulis skenario, tim produksi, hingga dua bintang utama—termasuk IU—secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada publik. Pihak studio juga berjanji untuk melakukan penyuntingan ulang pada episode-episode yang bermasalah.
Kontroversi Mahkota
Sebagai drama dengan konsep alternatif (alternative universe) di mana sistem monarki Korea diasumsikan masih bertahan hingga era modern, Perfect Crown memang memiliki kebebasan kreatif. Namun, para kritikus menilai adegan penobatan di episode 11 telah melanggar batas sensitivitas nasional yang sangat mendasar.
Kesalahan fatal pertama terletak pada mahkota persegi yang dikenakan Pangeran Ian saat memasuki istana diiringi tabuhan genderang. Mahkota tersebut hanya memiliki sembilan rumbai di sisi depan dan belakang.
Padahal dalam sejarah riil, Raja Gojong yang mendeklarasikan Kekaisaran Korea yang berdaulat dan merdeka pada tahun 1897 mengenakan mahkota dengan 12 rumbai. Mahkota sembilan rumbai justru melambangkan status pangeran atau pemimpin wilayah bawahan (vassal state) yang tunduk di bawah kekaisaran negara lain.
Kontroversi Seruan dan Gelar
Penghinaan visual tersebut diperparah oleh dialog para pejabat istana yang menyerukan kata “Cheonse” (artinya “hidup seribu tahun”). Ungkapan yang tepat untuk pemimpin negara berdaulat adalah “Manse” (“hidup sepuluh ribu tahun”), sementara Cheonse hanya digunakan oleh wilayah taklukan atau negara bawahan.
Selain itu, gelar kerajaan yang disandang oleh karakter Ian, istrinya Seong Hee Ju (diperankan oleh Gong Seung Yeon), serta Ibu Suri (diperankan oleh IU) menggunakan tata istilah Dinasti Joseon yang tidak sinkron dengan sistem kekaisaran yang coba digambarkan dalam drama.
Kontroversi Adegan Minum Teh dan Luka Lama
Kontroversi tidak berhenti di situ. Pada episode sebelumnya, adegan minum teh saat Seong berkonfrontasi dengan Ibu Suri juga memicu kecaman. Tata cara menyeduh teh yang ditampilkan—seperti menuangkan air ke atas nampan penyaring—diketahui secara luas sebagai bagian dari tradisi teh China, bukan Korea.
Bagi masyarakat Korea Selatan, detail-detail ini menyentuh luka sejarah yang sangat traumatis. Di masa lalu, Dinasti Goryeo dan Joseon dipaksa mempertahankan hubungan upeti dengan dinasti kekaisaran China (Ming dan Qing). Peristiwa menyerahnya Raja ke-16 Joseon, Raja Injo, kepada Kaisar Qing saat invasi Manchu tahun 1636 bahkan dicatat dalam buku pelajaran sekolah sebagai bentuk penghinaan nasional yang paling kelam.
Di sisi lain, publik juga mempertanyakan relevansi sistem kasta hierarkis dalam konsep monarki abad ke-21 yang ditampilkan di drama tersebut, mengingat sistem kasta sesungguhnya telah dihapus sejak tahun 1894 demi menghormati nilai demokrasi modern. Berdasarkan survei universitas dan lembaga riset global, mayoritas warga Korea Selatan menempatkan sistem politik dan perkembangan demokrasi modern sebagai sumber utama kebanggaan nasional mereka.