JAKARTA – Film terbaru Steven Soderbergh, John Lennon: The Last Interview, menghadirkan potret intim sang legenda pada hari terakhir hidupnya.
Wawancara radio dengan KFRC San Francisco yang dilansir Variety, Sabtu (16/5/2026), dilakukan di apartemen Dakota pada 8 Desember 1980, hanya beberapa jam sebelum Lennon ditembak mati, menjadi inti dokumenter ini.
Dalam percakapan itu, Lennon menyinggung makna lagu “(Just Like) Starting Over.” Ia melihatnya sebagai simbol rekonsiliasi antara pria dan wanita setelah gelombang feminisme 1970-an. “Sudah saatnya mereka mulai bersatu kembali,” ujarnya, menegaskan naluri sosialnya yang tajam.
Namun, sisi lain Lennon juga muncul. Ia menceritakan masa lima tahun sebagai “suami rumah tangga” setelah kelahiran Sean. Lennon bangga menyiapkan sarapan tanpa gula dan memastikan anaknya menonton Sesame Street. Tetapi pengakuan bahwa pengasuh tetap menghabiskan sebagian besar waktu bersama Sean menimbulkan ironi: Lennon memproklamirkan peran ayah baru, namun masih bergantung pada pola lama.
Fokus kembali: dalam wawancara, Lennon juga berbicara tentang kebahagiaannya, kadang terdengar mesianis. “Dia melihat hal-hal yang biasanya hanya bisa Anda lihat dalam data,” kata Lennon tentang pengamatan Yoko, menunjukkan betapa ia terbuka terhadap refleksi.
Soderbergh menyusun wawancara itu menjadi kolase arsip yang kaya, dipadu foto-foto langka dan musik Lennon serta The Beatles. Lagu “Love” yang mengiringi kredit akhir memberi nuansa melankolis. Meski wawancara ini lebih menyerupai promosi album Double Fantasy daripada penggalian sejarah The Beatles, film tetap menyajikan pesan Lennon tentang kesetaraan gender dan cinta sebagai fondasi baru.
Yang paling menyentuh, The Last Interview memperlihatkan arah yang mungkin ditempuh Lennon seandainya ia tidak terbunuh: kembali tampil di panggung, berkolaborasi dengan musisi, dan memulai babak baru pada usia 40 tahun. Dokumenter ini bukan sekadar arsip, melainkan gambaran pahit manis tentang seorang ikon yang “baru saja memulai.”