JAKARTA — Candi Borobudur bukan sekadar destinasi wisata warisan leluhur. Di balik ribuan batu yang tersusun rapi dan relief yang mengalir penuh makna, tersimpan berbagai kisah menarik yang luput dari perhatian banyak orang. Berikut sejumlah fakta mengejutkan tentang salah satu keajaiban dunia yang berdiri kokoh di jantung Pulau Jawa.
1. Ditemukan oleh Tangan Kolonial
Tak banyak yang menyadari bahwa kemunculan kembali Borobudur ke hadapan dunia modern justru bermula dari seorang pejabat kolonial Inggris. Adalah Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris yang kala itu menguasai Jawa, yang pada tahun 1814 mendokumentasikan keberadaan candi megah ini. Pengalamannya menjelajahi tanah Jawa kemudian ia tuangkan dalam sebuah karya tulis bersejarah bertajuk The History of Java.
Tak berhenti di situ, Raffles menugaskan H.C. Cornelius untuk melakukan pembersihan dan penelitian awal di kawasan candi yang ketika itu masih tertimbun semak belukar. Langkah itulah yang menjadi titik awal perhatian dunia terhadap situs bersejarah tersebut, sekaligus memantik upaya pelestarian yang terus berlanjut hingga kini.
2. Dibangun dari Dua Juta Balok Batu yang Saling Mengunci
Kemegahan Borobudur bukan hanya soal keindahan visual. Secara struktural, candi ini dibangun menggunakan sekitar dua juta balok batu vulkanik yang dipahat dengan tingkat presisi tinggi. Hal yang paling menakjubkan adalah cara penyusunannya: setiap balok dirancang saling mengunci satu sama lain layaknya kepingan puzzle raksasa. Teknik konstruksi kuno inilah yang membuat Borobudur tetap tegak berdiri selama lebih dari seribu tahun.
3. Luka yang Ditinggalkan Merapi
Borobudur tidak hanya berhadapan dengan ancaman tangan manusia, tetapi juga keganasan alam. Letusan Gunung Merapi pada Oktober hingga November 2010 meninggalkan dampak yang cukup serius. Abu vulkanik yang dimuntahkan gunung berapi paling aktif di Indonesia itu menyelimuti seluruh kompleks candi dengan ketebalan mencapai 2,5 sentimeter. Akibatnya, kawasan wisata terpaksa ditutup untuk umum pada 5 hingga 9 November 2010 guna keperluan pembersihan menyeluruh.
Dalam proses pemulihannya, UNESCO turut mengulurkan tangan dengan menyalurkan dana rehabilitasi sebesar tiga juta dolar Amerika Serikat. Pemulihan yang memakan waktu kurang lebih enam bulan itu mencakup penghijauan kembali kawasan sekitar candi, perbaikan sistem drainase, hingga pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di sekitarnya.
4. Koleksi yang Terpencar ke Penjuru Dunia
Sayangnya, tidak semua warisan Borobudur bisa dinikmati di tempat asalnya. Sejumlah artefak arkeologis dari situs ini telah berpindah tangan akibat pencurian yang terjadi sepanjang sejarah, dan kini tersebar di berbagai museum mancanegara.
Di tanah air sendiri, dua tempat menjadi rumah bagi koleksi asli Borobudur, yakni Museum Karmawibhangga yang berlokasi di dalam kompleks candi dan Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Sementara itu, di panggung internasional, sejumlah museum ternama seperti Tropenmuseum di Amsterdam, British Museum di London, dan Museum Nasional Bangkok di Thailand tercatat menyimpan koleksi yang berasal dari Borobudur.
Fakta-fakta ini mengingatkan kita bahwa Borobudur bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah saksi bisu peradaban, arena pergumulan sejarah, sekaligus tanggung jawab kolektif yang harus dijaga bersama lintas generasi. (ACH)


