JAKARTA – Pejabat pertahanan Thailand-Kamboja dijadwalkan bertemu pada Rabu (24/12/2025) untuk membahas peluang menghidupkan kembali gencatan senjata, di saat bentrokan perbatasan kedua negara telah memasuki pekan ketiga.
Keputusan menggelar pertemuan tersebut diambil dalam rapat khusus para menteri luar negeri Asia Tenggara di Kuala Lumpur yang berupaya menyelamatkan kesepakatan damai.
Sebelumnya inisiasi damai dimediasi Malaysia sebagai ketua ASEAN bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah bentrokan pada Juli lalu.
Mengutip laporan Reuters, Selasa, kedua negara sepakat menggunakan mekanisme General Border Committee sebagai forum dialog.
Dimana Thailand mengusulkan lokasi pertemuan di garis perbatasan Provinsi Chanthaburi, sebagaimana disampaikan Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow dalam jumpa pers di Kuala Lumpur.
Sementara Kementerian Pertahanan Kamboja belum memberikan tanggapan resmi atas rencana pertemuan tersebut.
Sihasak menegaskan Thailand menginginkan “gencatan senjata yang nyata” dengan komitmen tegas dari Kamboja serta rencana implementasi yang rinci, sambil menekankan bahwa proses pembersihan ranjau menjadi langkah penting untuk mendorong perdamaian berkelanjutan.
“Gencatan senjata tidak bisa sekadar diumumkan, tetapi harus dibahas secara mendalam,” kata Sihasak.
Pertemuan ASEAN ini berlangsung setelah dua pekan pertempuran sengit yang menewaskan sedikitnya 80 orang dan memaksa lebih dari setengah juta warga mengungsi dari wilayah terdampak konflik.
Upaya damai kawasan tersebut muncul di tengah langkah diplomatik terpisah yang dilakukan Amerika Serikat dan China, meski hingga kini belum menunjukkan hasil konkret untuk mengakhiri konflik.
Sihasak menegaskan keputusan melanjutkan dialog tidak melibatkan Amerika Serikat maupun China, melainkan murni hasil kesepakatan Thailand dan Kamboja untuk “menyelesaikan persoalan bersama.”
Bangkok dan Phnom Penh saling menuduh sebagai pihak agresor yang menyebabkan runtuhnya gencatan senjata yang diperkuat dan disepakati pada Oktober di Malaysia, di mana kedua negara berkomitmen melakukan pembersihan ranjau serta penarikan pasukan dan senjata berat.
Adu tembak berat dilaporkan terjadi di berbagai titik sepanjang perbatasan darat sepanjang 817 kilometer, mulai dari kawasan hutan dekat Laos hingga wilayah pesisir, dengan bentrokan kembali pecah pada Senin disertai tudingan agresi dari kedua pihak.
Pertemuan di Kuala Lumpur menjadi kontak tatap muka pertama antara kedua pemerintah sejak pertempuran kembali pecah pada 8 Desember.
Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan dalam pembukaan pertemuan mendesak ASEAN mengambil peran lebih tegas untuk menghentikan konflik dan menjaga stabilitas kawasan.
“ASEAN harus melakukan apa pun yang diperlukan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan,” ujarnya.
“Tujuan kami melampaui sekadar meredakan ketegangan, karena kami harus memperkuat pembangunan kepercayaan di antara pihak-pihak yang berkonflik dan membuka ruang dialog meski perbedaan masih ada,” lanjut Mohamad Hasan.
Kementerian Pertahanan Kamboja pada hari yang sama menuduh Thailand melanggar kedaulatan negaranya melalui “agresi bersenjata” dan menyatakan siap mempertahankan wilayah yang diklaim sebagai miliknya “dengan segala cara.”
Thailand menuding Kamboja berupaya menembakkan roket ke kota perbatasan dan melaporkan seorang prajurit kehilangan kaki akibat ranjau darat, sementara Phnom Penh membantah tuduhan peletakan ranjau baru yang disebut melanggar perjanjian internasional.***
