KAIRO, MESIR – Proses negosiasi tahap kedua perdamaian Gaza kembali memasuki fase krusial. Delegasi Hamas tiba di Kairo, Mesir, guna menggelar pembicaraan intensif dengan mediator Mesir terkait implementasi kesepakatan damai, di tengah belum meredanya konflik dan masih berlangsungnya serangan di Jalur Gaza.
Pertemuan tersebut dipandang sebagai momentum penting untuk menjaga kesinambungan proses negosiasi di tengah situasi keamanan yang masih rapuh. Selain membahas mekanisme gencatan senjata, agenda utama juga mencakup akses bantuan kemanusiaan hingga persiapan memasuki fase kedua peta jalan perdamaian Gaza.
Penasihat kantor politik Hamas, Taher Al-Nunu, mengonfirmasi bahwa rombongan Hamas telah tiba di ibu kota Mesir pada Selasa pagi.
“Delegasi Hamas yang dipimpin Zaher Jabarin telah tiba di Kairo untuk mengadakan pertemuan dengan para pejabat dan mediator Mesir guna membahas perkembangan terbaru di Gaza,” ujar Al-Nunu.
Delegasi tersebut dipimpin Zaher Jabarin yang merupakan anggota biro politik Hamas untuk wilayah Tepi Barat. Kehadiran mereka menandai dimulainya kembali komunikasi intensif antara Hamas dan mediator Mesir yang selama ini berperan penting dalam menjembatani dialog antara berbagai pihak.
Fokus Bahas Bantuan Kemanusiaan dan Redam Eskalasi
Dalam perundingan kali ini, Hamas dan mediator Mesir akan mengevaluasi perkembangan implementasi kesepakatan damai, terutama terkait kondisi kemanusiaan yang masih menjadi perhatian utama masyarakat internasional.
Salah satu isu yang mendapat perhatian ialah pembukaan akses bantuan kemanusiaan ke Gaza. Bantuan tersebut dinilai krusial untuk mempercepat pemulihan wilayah yang mengalami kerusakan akibat konflik berkepanjangan.
Menurut Al-Nunu, pembahasan akan menitikberatkan pada langkah-langkah untuk memastikan Israel memenuhi komitmen dalam membuka jalur distribusi bantuan.
“Kami akan membahas perkembangan terbaru dan memastikan implementasi komitmen terkait masuknya bantuan kemanusiaan, termasuk material yang dibutuhkan untuk memulihkan rumah sakit, fasilitas produksi roti, dan infrastruktur dasar,” katanya.
Pemulihan layanan kesehatan dan fasilitas publik menjadi prioritas karena banyak sarana vital di Gaza mengalami kerusakan selama konflik. Kelancaran distribusi bantuan juga dipandang sebagai indikator penting bagi keberhasilan proses perdamaian yang sedang berlangsung.
Tahap Kedua Perdamaian Jadi Agenda Strategis
Selain membahas isu kemanusiaan, pertemuan di Kairo juga diarahkan untuk menyusun langkah menuju fase kedua dari rencana perdamaian Gaza.
Tahapan tersebut mencakup sejumlah agenda strategis, mulai dari pembentukan pemerintahan internasional sementara di Gaza hingga pengerahan pasukan stabilisasi internasional sebagai bagian dari mekanisme pengamanan pascakonflik.
Rencana itu juga memuat agenda penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Gaza sebagai salah satu target utama implementasi kesepakatan damai.
Pembentukan struktur pemerintahan baru di Gaza diharapkan menjadi fondasi bagi proses rekonstruksi sekaligus membuka ruang bagi stabilitas politik dan keamanan dalam jangka panjang.
Resolusi PBB Jadi Landasan Implementasi
Upaya melanjutkan proses perdamaian memperoleh dukungan dari komunitas internasional setelah Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan Resolusi 2803 pada November tahun lalu.
Resolusi tersebut mendukung implementasi kesepakatan damai yang dicapai Israel dan Hamas pada Oktober 2025 serta menjadi pijakan bagi pelaksanaan tahapan berikutnya.
Sebelumnya, utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, juga mengumumkan dimulainya fase kedua implementasi rencana perdamaian pada pertengahan Januari.
Tahap lanjutan itu meliputi perluasan penarikan pasukan Israel, pembentukan struktur pemerintahan baru di Gaza, hingga pembentukan Dewan Perdamaian yang bertugas mengawal proses transisi politik.
Tantangan Masih Membayangi Proses Perdamaian
Meski jalur diplomasi terus berjalan, kondisi di lapangan masih menjadi tantangan besar bagi keberhasilan implementasi kesepakatan.
Laporan dari wilayah Gaza menunjukkan serangan Israel masih berlangsung di sejumlah lokasi. Di sisi lain, Hamas tetap mempertahankan sikapnya untuk tidak melakukan pelucutan senjata dalam skema yang saat ini dibahas.
Kelompok tersebut sebelumnya menyatakan hanya bersedia menyerahkan persenjataan kepada otoritas Palestina apabila terdapat kesepakatan politik yang komprehensif.
Perbedaan pandangan mengenai aspek keamanan dan tata kelola pemerintahan menjadi salah satu isu yang diperkirakan masih akan mendominasi proses negosiasi dalam beberapa waktu ke depan.
Kairo Kembali Jadi Pusat Diplomasi Gaza
Mesir kembali memainkan peran sentral sebagai mediator dalam upaya mencari solusi atas konflik Gaza yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Pertemuan di Kairo diharapkan mampu menghasilkan kemajuan konkret, baik dalam memperluas akses bantuan kemanusiaan maupun mempercepat implementasi tahap kedua peta jalan perdamaian.
Keberhasilan perundingan tersebut dinilai akan menjadi penentu arah proses politik berikutnya, sekaligus membuka peluang terciptanya stabilitas yang lebih berkelanjutan bagi Gaza di tengah berbagai tantangan yang masih membayangi kawasan tersebut.