JAKARTA – NEXT Indonesia Center menilai terdapat delapan sektor yang dianggap tepat menerima kucuran kredit senilai total Rp200 triliun yang dialokasikan oleh pemerintah. Sektor-sektor tersebut dinilai memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang signifikan terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).
Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, dalam keterangan persnya di Jakarta pada Senin (15/9/2025), mengungkapkan bahwa delapan sektor tersebut mampu menghasilkan efek pengganda rata-rata lebih dari satu kali terhadap PDB. “Secara rata-rata, kucuran kredit ke sektor-sektor ini dapat mengungkit perekonomian hingga sekitar 1,44 kali,” ujar Christiantoko, menambahkan bahwa kredit yang tepat sasaran berpotensi mendongkrak PDB sektoral lebih dari satu kali lipat.
Simulasi yang dilakukan oleh NEXT Indonesia Center menggunakan data dari periode 2014 hingga 2024, dengan pengecualian tahun 2020 yang dianggap sebagai tahun anomali akibat krisis COVID-19. Simulasi tersebut menunjukkan potensi sektor-sektor tertentu dalam memacu pertumbuhan ekonomi jika mendapat akses kredit yang tepat.
Adapun delapan sektor yang dianggap memiliki efek pengganda positif terhadap perekonomian, berdasarkan simulasi tersebut, meliputi:
- Industri Pengolahan (efek pengganda 1,69)
- Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
- Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
- Penyediaan Akomodasi Makanan dan Minuman
- Transportasi dan Pergudangan, Informasi dan Komunikasi
- Jasa Pendidikan
- Real Estat
- Administrasi Pemerintahan
Christiantoko mengingatkan bahwa penyaluran kredit di luar delapan sektor tersebut cenderung tidak memiliki dampak langsung terhadap perekonomian. Meski begitu, kredit di sektor lainnya tetap memiliki peran, namun dampaknya lebih tidak langsung.
“Pesan penting dari simulasi ini adalah agar pemerintah mengawal penyaluran kredit dengan hati-hati. Jangan sampai pemberian kredit bersifat asal-asalan,” tegasnya. Ia menekankan agar sektor yang diberikan pinjaman harus jelas dan sesuai dengan prioritas ekonomi nasional.
Terkait dengan alokasi dana stimulus Rp200 triliun yang telah dipindahkan ke bank-bank milik pemerintah, Christiantoko juga mengingatkan pentingnya kebijakan yang dapat memacu permintaan (demand) secara luas. Hal ini tidak hanya akan mendukung peningkatan kredit usaha, tetapi juga daya beli masyarakat. Menurutnya, kebijakan yang komprehensif dari pemerintah sangat diperlukan untuk mendukung kinerja perekonomian.
Selain itu, Christiantoko mencatat bahwa likuiditas perbankan saat ini masih cukup longgar, dengan loan to deposit ratio (LDR) di bawah 90 persen dan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang terjaga di bawah 2,5 persen. “Data ini menunjukkan bahwa risiko penyaluran kredit masih terkelola dengan baik dan dunia usaha masih mampu membayar kewajiban kreditnya,” tambahnya.
Christiantoko juga menyebutkan bahwa sektor manufaktur Indonesia menunjukkan sinyal positif. Indeks manufaktur Indonesia per Agustus 2025 tercatat pada angka 51,5, yang mengindikasikan adanya ekspansi di sektor ini. Selain itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) periode yang sama tercatat pada angka 53,55.
Melihat hal ini, Christiantoko mendorong pemerintah untuk terus memberikan dorongan kepada dunia usaha, baik dalam bentuk kemudahan atau stimulus fiskal. Namun, ia mengingatkan bahwa kegiatan industri juga berada dalam lingkup Kementerian Perindustrian, sehingga paket kebijakan yang terintegrasi sangat penting.
Selain itu, untuk meningkatkan permintaan dari konsumen akhir, NEXT Indonesia Center juga menilai bahwa program stimulus yang meningkatkan daya beli masyarakat perlu terus dijalankan agar dunia usaha dapat bergerak lebih aktif.