SUMUT – Sebuah video yang memperlihatkan oknum polisi menendang seorang wanita dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Labuhanbatu, Sumatera Utara (Sumut). Aksi kekerasan tersebut langsung menyita perhatian publik dan memicu reaksi keras dari warga sekitar.
Dalam video yang beredar, terlihat seorang polisi yang belakangan diketahui bernama Bripka J mengayunkan kakinya dan menendang wanita tersebut tepat di wajah. Aksi ini terjadi di depan warga yang menyaksikan kejadian tersebut. Salah seorang warga bahkan terdengar berteriak.
“Jangan, Pak, jangan pakai kekerasan, Pak!” sebagai bentuk protes terhadap tindakan polisi yang dinilai berlebihan.
Insiden Pembakaran Motor Diduga Jadi Pemicu
Menurut narasi dalam video, wanita ODGJ yang bernama Evi itu sebelumnya diduga membakar sepeda motor milik polisi. Hal ini disebut-sebut sebagai alasan di balik kekesalan Bripka J. Meski demikian, tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum polisi tersebut tetap menuai kecaman dari masyarakat. Banyak yang menilai bahwa tindakan tersebut tidak proporsional, terlepas dari tindakan provokatif yang dilakukan oleh wanita tersebut.
Polda Sumut Turun Tangan
Merespons kejadian ini, pihak kepolisian melalui Kasubbid Penmas Polda Sumut, Kompol Siti Rohani, mengonfirmasi bahwa pria yang terekam dalam video tersebut adalah Bripka J, anggota Polres Labuhanbatu.
“Kami telah menerima laporan, dan Bripka J saat ini sedang menjalani proses pemeriksaan di Polres Labuhanbatu terkait insiden tersebut,” jelas Kompol Siti Rohani.
Polda Sumut memastikan bahwa proses penyelidikan sedang berlangsung dan akan menindaklanjuti kasus ini dengan serius. Masyarakat pun menantikan hasil pemeriksaan untuk memastikan keadilan bagi semua pihak yang terlibat.
Insiden ini kembali memicu perdebatan tentang perlunya penanganan yang lebih manusiawi terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) serta pentingnya profesionalisme aparat penegak hukum dalam menangani situasi yang melibatkan kelompok rentan. Banyak warga yang berharap agar kasus ini tidak hanya diselesaikan secara internal, tetapi juga menjadi pembelajaran bagi seluruh pihak untuk menghindari tindakan kekerasan yang tidak perlu di masa depan.