VATIKAN – Paus Leo XIV resmi dilantik sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia dalam misa pelantikan di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, yang dihadiri puluhan ribu umat dan sejumlah pemimpin dunia.
Momen Bersejarah di Lapangan Santo Petrus
Dalam suasana penuh sukacita, Paus Leo XIV—Paus pertama dari Amerika Serikat—memukau dunia dengan penampilan perdananya. Misa pelantikan yang digelar pada pukul 10 pagi waktu setempat ini menjadi sorotan global. Jalan-jalan di sekitar Vatikan dipadati umat yang ingin menyaksikan perjalanan pertama Paus Leo XIV menggunakan mobil paus berwarna putih.
“Semoga damai menyertai kalian semua!” ujar Paus Leo XIV, mengulang kata-kata penuh makna yang disampaikannya saat pertama kali muncul di balkon Basilika Santo Petrus pada 8 Mei 2025.
Pemilihan Paus Leo XIV melalui konklaf pada 8 Mei 2025, setelah wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April 2025, menjadi tonggak sejarah. Sebagai mantan misionaris di Peru dan pemimpin Ordo Agustinus, Paus Leo XIV membawa perspektif unik yang menggabungkan pengalaman global dengan komitmen pada keadilan sosial dan perdamaian.
Agenda Padat dan Visi Kepemimpinan
Menjelang pelantikan, Paus Leo XIV telah menunjukkan energi luar biasa dalam menjalankan tugas kepausan. Ia mengadakan pertemuan dengan para kardinal, menyapa ribuan jurnalis, dan memimpin sesi doa yang menggugah. Dalam pidato perdananya kepada media, ia menyerukan kebebasan pers dan pembebasan jurnalis yang ditahan, dengan tegas menyatakan, “Kebebasan pers harus dipertahankan.”
Paus Leo XIV juga menegaskan komitmennya untuk melanjutkan warisan Paus Fransiskus, sembari menghidupkan kembali semangat Paus Leo XIII yang dikenal sebagai pelopor ajaran sosial Gereja melalui ensiklik *Rerum Novarum*.
“Saya memilih untuk mengambil nama Leo XIV,” ujarnya, merujuk pada pendahulunya yang vokal membela hak pekerja di era Revolusi Industri. Ia menekankan bahwa ajaran sosial Gereja tetap relevan di tengah tantangan modern seperti kemajuan teknologi dan krisis kemanusiaan.
Kehadiran Pemimpin Dunia dan Sorotan Global
Misa pelantikan ini tidak hanya menjadi peristiwa rohani, tetapi juga ajang diplomasi internasional. Sejumlah pemimpin dunia hadir, termasuk Wakil Presiden AS J.D. Vance, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Perdana Menteri Kanada Mark Carney, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, serta Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Kehadiran mereka menegaskan peran Vatikan sebagai pusat dialog global untuk perdamaian.
Paus Leo XIV, yang dijuluki “Father Bob” karena gaya pastoralnya yang sederhana, telah mencuri perhatian dunia dengan pendekatan yang hangat dan inklusif. Dalam khotbahnya, ia menyerukan gencatan senjata di Gaza, Ukraina, dan perbatasan India-Pakistan, menegaskan bahwa Gereja harus menjadi “tangan yang mengulurkan harapan” bagi mereka yang menderita.
Kontroversi dan Tantangan
Meski disambut dengan antusiasme, Paus Leo XIV tidak luput dari sorotan. Isu mengenai kakaknya, Louis Prevost, yang dikaitkan dengan komentar kontroversial di media sosial, sempat menjadi perbincangan. Selain itu, sebuah unggahan di platform X menyebutkan dugaan pelecehan saat ia menjabat sebagai uskup, meski klaim ini belum terverifikasi dan memerlukan penelusuran lebih lanjut.
Namun, Paus Leo XIV tampak fokus pada misinya. Ia menegaskan bahwa Gereja harus membuka pintu bagi para pengungsi dan komunitas terpinggirkan, sembari mendorong dialog antarumat dan keadilan sosial.
“Gereja bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga rumah bagi mereka yang mencari pengharapan,” katanya dalam salah satu pidato awalnya.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan kepemimpinan Paus Leo XIV, umat Katolik sedunia kini menantikan arah baru Gereja dalam menghadapi tantangan global, mulai dari konflik bersenjata hingga revolusi digital. Misa pelantikan ini bukan hanya perayaan, tetapi juga panggilan untuk memperbarui komitmen Gereja sebagai suara kenabian di tengah dunia yang terpecah.
Seperti yang ditegaskan Paus Leo XIV dalam doa Regina Caeli perdananya, “Pada zaman kita sekarang, Gereja menawarkan kepada setiap orang perbendaharaan ajaran sosialnya sebagai respons terhadap revolusi industri lainnya dan terhadap perkembangan di bidang kecerdasan buatan yang menimbulkan tantangan baru bagi pembelaan martabat manusia, keadilan, dan tenaga kerja.”