JAKARTA – Pelatih Alex Eala, Joan Bosch, mengaku tidak pernah membayangkan dukungan besar fans Filipina mengikuti perjalanan sang petenis di berbagai kota Amerika Utara.
Performa Eala sepanjang 2026 memang membuat namanya semakin diperhitungkan setelah menembus peringkat 20 dunia dan mengoleksi satu gelar WTA Tour.
Petenis Filipina berusia 21 tahun itu mencatat terobosan besar ketika menjuarai Washington dan menjadi wakil Filipina pertama yang meraih gelar tunggal WTA.
Setelah Washington, Eala melanjutkan kiprahnya di Toronto dengan menembus babak 16 besar sebelum dihentikan Belinda Bencic.
Laju tersebut kemudian berlanjut ke Cincinnati Open, tetapi Eala tersingkir pada babak ketiga setelah kalah dari Amanda Anisimova dengan skor 6-4, 6-4, 6-2.
Bosch menilai perkembangan Eala sebenarnya sudah terlihat sejak masa pramusim dan turnamen awal 2026.
“Kami optimistis karena dia menjalani pramusim yang bagus dan saya sangat senang melihat permainannya di Selandia Baru,” kata Bosch seperti dikutip Tennis365, Minggu (23/8/2026).
Ia menyebut kemenangan Eala atas Donna Vekic, Petra Marcinko, dan Magda Linette menjadi sinyal bahwa kemampuan sang pemain mulai berkembang konsisten.
“Kamu tidak pernah tahu batas yang bisa dicapai, tetapi saya berpikir jika kami mampu mempertahankan level seperti tahun lalu, kami akan beruntung mendapatkan beberapa pekan dengan hasil lebih baik dari peringkat 50,” ujar Bosch.
Prediksi tersebut akhirnya terbukti karena Eala melesat jauh dari posisi awal tahun di peringkat 50 menuju jajaran 20 besar dunia.
Namun, kejutan terbesar bagi tim Eala justru datang dari gelombang dukungan masyarakat Filipina yang terus membesar di setiap turnamen.
“Kami benar-benar tidak pernah membayangkan dukungannya akan seperti ini,” ungkap Bosch mengenai antusiasme fans Filipina.
Bosch bahkan menemukan sejumlah warga Filipina dalam penerbangan yang sengaja bepergian dari Washington menuju Toronto demi kembali menyaksikan Eala bertanding.
“Kami sangat bahagia melihat komunitas dan fans Filipina seperti ini karena di mana pun kami pergi, mereka selalu ada,” katanya.
Dukungan tersebut terlihat jelas di Toronto ketika pertandingan Eala mendapat sambutan meriah dan stadion dipenuhi penonton asal Filipina.
Suasana itu membuat Eala menyebut atmosfer pertandingan di Toronto sebagai “Barangay Toronto” karena begitu kuatnya dukungan komunitas Filipina.
“Senang sekali berada di Barangay Toronto,” tulis Eala ketika mengungkapkan rasa terima kasih kepada para pendukungnya.
Eala juga menilai dukungan tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga dalam perjalanan kariernya sebagai petenis profesional.
“Sulit mengungkapkannya dengan kata-kata, tetapi sangat mudah untuk merasa bersyukur kepada kalian semua,” ujar Eala.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perjalanan Eala bukan hanya menghadirkan prestasi olahraga, tetapi juga membangkitkan kebanggaan nasional di kalangan masyarakat Filipina.
Bosch mengakui besarnya dukungan tersebut sekaligus menghadirkan tekanan tersendiri karena Eala dituntut tampil maksimal di depan ribuan pendukungnya.
“Lapangan di Toronto penuh setiap hari ketika dia bermain,” kata Bosch.
“Bagi kami, situasi itu terkadang terasa menakutkan karena sulit untuk selalu menampilkan permainan terbaik,” lanjutnya.
Tekanan itu semakin berat karena Eala harus menjalani jadwal padat setelah tampil di final Washington pada Senin dan langsung melakukan perjalanan menuju Toronto sehari kemudian.
“Pekan itu sangat berat bagi Alex karena dia menjuarai Washington, bermain di final pada Senin, lalu kami baru bepergian pada Selasa,” tutur Bosch.
Meski menghadapi kelelahan dan tekanan besar, Eala tetap mampu memenangkan dua pertandingan pertamanya di Toronto sebelum perjalanan positifnya dihentikan Bencic.
Dukungan fans bahkan membuat pertandingan Eala di Toronto menjadi salah satu daya tarik utama turnamen dan memperlihatkan besarnya pengaruh komunitas Filipina terhadap popularitasnya.
Menurut data WTA, Eala kini berada di peringkat 20 dunia dengan rekor 37 kemenangan dan 19 kekalahan sepanjang 2026.
Total hadiah uang yang tercatat dalam statistik WTA mencapai US$1.634.930 atau sekitar Rp28,95 miliar dengan acuan JISDOR Bank Indonesia Rp17.705 per dolar AS pada 21 Agustus 2026.
Perjalanan Eala berikutnya menjadi semakin menarik karena ia akan memasuki fase akhir musim dengan modal kepercayaan diri, pengalaman, dan dukungan fans yang terus meluas.***





