VATIKAN – Alun-alun Santo Petrus dipadati ribuan pelayat dan pemimpin dunia untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Paus Fransiskus, yang wafat pada Senin, 21 April 2025, di usia 88 tahun. Di antara para tamu kenegaraan, mantan Presiden Amerika Serikat Joe Biden bersama sang istri, Jill Biden, terlihat tiba di Roma untuk mengikuti upacara pemakaman bersejarah ini.
Kehadiran Pemimpin Dunia di Basilika Santo Petrus
Misa pemakaman Paus Fransiskus digelar pada Sabtu pagi, pukul 10.00 waktu Roma (15.00 WIB), di Lapangan Basilika Santo Petrus. Upacara yang dipimpin Kardinal Giovanni Battista Re ini menjadi sorotan dunia, dengan kehadiran sekitar 170 delegasi dari berbagai negara dan organisasi internasional.
Selain Joe Biden, sejumlah tokoh dunia seperti Presiden AS Donald Trump, Pangeran William dari Inggris, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, serta Raja dan Ratu Spanyol turut hadir. Dari Indonesia, Presiden Prabowo Subianto mengutus mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama rombongan, termasuk Menteri HAM Natalius Pigai dan Ignasius Jonan.
Puncak Penghormatan untuk Paus Reformis
Paus Fransiskus, yang dikenal sebagai sosok sederhana dan reformis, meninggalkan warisan mendalam bagi umat Katolik dan komunitas global. Selama kepemimpinannya sejak 2013, ia memperjuangkan inklusivitas, kepedulian terhadap lingkungan, dan dialog antaragama.
“Kami termasuk tamu resmi kenegaraan yang ikut upacara penghormatan terakhir Sri Paus Fransiskus bersama semua pemimpin negara di dunia,” ujar Natalius Pigai, menegaskan pentingnya momen ini bagi delegasi Indonesia.
Sejak disemayamkan di Basilika Santo Petrus pada Rabu, 23 April 2025, jenazah Paus Fransiskus telah dikunjungi lebih dari 250.000 pelayat. Prosesi pemakaman ini tidak hanya menjadi ajang perpisahan, tetapi juga simbol persatuan umat manusia, sebagaimana pesan Paus Fransiskus: menyambut “setiap orang, setiap orang, setiap orang.”
Peristirahatan Terakhir di Basilika Santa Maria Maggiore
Setelah misa, peti jenazah Paus Fransiskus dibawa ke Basilika Santa Maria Maggiore, gereja favoritnya, untuk dimakamkan secara sederhana dengan nisan bertuliskan “Fransiskus.” Keputusan ini mencerminkan kehendak Paus untuk menjalani pemakaman yang sederhana, sesuai dengan semangat hidupnya.
Makamnya akan dibuka untuk umum mulai 27 April 2025, mengundang lebih banyak peziarah untuk mengenang sang pemimpin spiritual.
Suasana Duka dan Persiapan Konklaf
Masa berkabung selama sembilan hari (Novendiales) akan berlangsung hingga 4 Mei 2025, diiringi misa harian di Basilika Santo Petrus. Setelah itu, para kardinal dari seluruh dunia akan berkumpul untuk konklaf guna memilih Paus baru, yang diperkirakan dimulai paling cepat pada 6 Mei 2025.
Antusiasme umat Katolik kini tertuju pada asap putih dari Sistine Chapel, tanda terpilihnya pemimpin Gereja Katolik berikutnya.
Makna Global Pemakaman Paus Fransiskus
Kehadiran puluhan kepala negara dan ratusan ribu peziarah menegaskan pengaruh besar Paus Fransiskus di panggung dunia. Dari isu perdamaian hingga keadilan sosial, warisannya terus menginspirasi.
Bagi Indonesia, kehadiran Jokowi dan rombongan menjadi wujud penghormatan atas hubungan erat dengan Vatikan, terutama setelah kunjungan Paus Fransiskus ke Jakarta pada September 2024.
Dengan pengamanan ketat, termasuk jet tempur dan penembak jitu di sepanjang Via della Conciliazione, Roma menjadi pusat perhatian dunia. Pemakaman ini bukan hanya perpisahan dengan seorang paus, tetapi juga perayaan atas kehidupan yang didedikasikan untuk cinta kasih dan kemanusiaan.